Tampilkan postingan dengan label RAGAM BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RAGAM BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Januari 2014

Pakaian Adat Jawa yang Terkenal

Jawa merupakan salah satu propinsi dengan Pakaian Adat Jawa yang terkenal dan juga dengan kapasitas orang terbanyak dibandingkan dengan pulau lain seperti Kalimantan atau Sulawesi. Pakaian Tradisional dari tanah jawa juga sempat menarik perhatian para wisatawan dikarenakan desain nya yang unik dan sederhana sehingga membuat para wisatawan asing menyukai desain pakaian Tradisional jawa ini. Yang paling terkenal dari desain pakaian adat jawa ini yaitu batik.

Pakaian Adat Jawa yang Disukai Oleh Wisatawan Asing

pakaian adat jawa tengah
Para wisatawan asing sangat menyukai desain batik ini karena desain batik ini memiliki daya jual sendiri yang bersifat internasional sehingga kain batik ini sendiri sudah banyak di ekspor ke luar negeri sebagai desain baju. Pakaian Tradisional Jawa Batik ini pada jaman dahulu kala untuk proses pengerjaannya sendiri memakan waktu lama hingga berhari hari dan proses pengerjaanya harus teliti dengan desain yang sesuai, tidak boleh ada tinta yang keluar dari desain dan orang yang mengerjakan harus teliti dan sabar untuk mengerjakan satu desain kain batik dengan kualitas tinggi dan harga jual yang baik.
Pakaian Tradisional Jawa Dalam Upacara Keraton
Namun kini, proses pengerjaan Pakaian Jawa batik tidaklah sesulit pada jaman dahulu kala dengan menggunakan metode seperti itu. Sekarang kita dapat membuat batik dengan mesin modern yang canggih dengan proses dalam beberapa waktu saja sudah dapat menghasilkan satu kain motif batik namun dengan kualitas yang kurang baik bila dibandingkan dengan pengerjaan batik dengan cara tradisional. Untuk penggunaan pakaian dari jawa ini sendiri biasanya dapat digunakan pada saat upacara keraton untuk orang – orang dengan keturunan bangsawan atau raja.
Pada saat upacara keraton mereka menggunakan Pakaian Tradisional Jawa baju beskap dengan motif bunga dengan menggunakan topi blankon, kain samping, dan alas kaki cemila lengkap dengan keris. Pakaian adat ini digunakan untuk laki – laki pada saat upacara keratin yang dinamakan jawi jangkep. Sedangkan Pakaian Adat Jawa Wanita biasanya menggunakan kebaya dengan menggunakan peniti renteng yang kemudian dipadukan dengan kain sinjang atau jarik dengan corak batik, dan rambut nya di sanggul dilengkapi dengan perhiasan seperti anting, cincin, dan kalung dengan bahan emas asli maupun perak.
Itu merupakan Pakaian Jawa Khusus bila digunakan dalam upacara khusus, bagaimana dengan pakaian Tradisional jawa untuk acara biasa? Untuk kalangan biasa mereka hanya menggunakan baju batik dengan celana kain berwarna hitam, dengan ikat pinggang besaem ikat kepala dan sarung. Itu merupakan pakaian yang umum digunakan untuk rakyat biasa yang tidak tergolong dalam bangsawan, melainkan hanya rakyat biasa yang menggunakan pakaian tersebut dan dapat digunakan untuk sehari – hari menggunakan Pakaian tradisional Jawa.
SUMBER http://alatmusiktradisional.com/pakaian-adat-jawa-yang-terkenal.html

Rabu, 22 Januari 2014

Pakaian Adat Aceh yang Unik

Nangroe Aceh Darussalam memiliki Pakaian Adat Aceh yang terkenal dan merupakan daerah istimewa yang terletak di pulau Sumatra dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia yang berada dijepit oleh selat malaka dan samudra hindia. Aceh merupakan tempat yang strategis untuk pusat pengembangan daerah dalam factor ekonomi, politik maupun budaya. Aceh adalah Negara yang berkembang pesat dalam factor tersebut dan termasuk salah satu daerah yang penting di Indonesia. Salah satu budaya yang perlu dilestarikan di aceh yaitu Pakaian Adat Aceh Tradisional karena dengan melestarikan budaya dari Aceh, turut melestarikan budaya Indonesia.

Pakaian Adat Aceh Secara Umum Terbagi Dalam 4 Kategori

PAKAIAN ADAT ACEH
Pakaian Adat Aceh secara umum terbagi menjadi 4 kategori, diantaranya yaitu ulee balang yang dapat digunakan untuk para raja beserta warisan dan keturunannya dan juga untuk para pemuka agama. Untuk Pakaian Adat Tradisional Aceh kategori ulee baling merupakan kategori tertinggi dalam kepemimpinan aceh yang dapat menggunakan busana tersebut, di Aceh busana tersebut hanya dapat digunakan oleh orang – orang dengan golongan atas.
Mengetahui Lebih Detil Tentang 4 Kategori Tersebut
Lalu ada kategori warga dalam Pakaian Adat Aceh yang menggunakan busana patut – patut, pada kategori ini busana yang digunakan untuk orang – orang yang tergolong dalam kategori pejabat Negara maupun orang yang berada dalam pemerintahan. Orang yang secara umum berada dalam posisi pemerintahan yang kemudian dapat memimpin rakyat, menggunakan busana patut – patut yang merupakan golongan manusia tingkat menengah di Aceh.
Dan yang terkahir dalam Pakaian Adat Aceh adalah kategori rakyat jelata, orang yang masuk kategori rakyat jelata merupakan orang – orang biasa yang tidak memiliki kedudukan yang secara umum merupakan golongan paling kecil dan tidak terlalu diperhitungkan. Orang yang berada pada kategori rakyat jelata, merupakan orang yang tidak berpendidikan, dan merupakan masyarakat yang kurang mampu dan dapat disebut sebagai penduduk biasa yang tidak memiliki kuasa terhadap Aceh.
Untuk Pakaian Adat Tradisional Aceh Ulee Baling sendiri merupakan pakaian tradisional Aceh yang megah dengan berbagai macam aksesoris dari emas asli, Ulee Balang adalah salah satu pakaian adat dari Aceh yang sangat terkenal dan dikagumi oleh banyak orang. Desain yang ada dlam Ulee Balang ini termasuk unik dikarenakan dengan tampilan yang memukau mata dan juga dengan corak yang indah dan penuh dengan emas di sekitar baju dan juga sebagai alas kepala dengan penuh balutan emas murni. Semua keluarga yang termasuk golongan bangsawan dapat menggunakan pakaian tradisional ini, bahkan untuk para anak kecil juga dapat menggunakan Ulee Baling ini namun dengan corak yang lebih sederhana dalam Pakaian Adat Tradisional  Aceh.

SUMBER  http://alatmusiktradisional.com/pakaian-adat-aceh-yang-unik.html

Selasa, 21 Januari 2014

Pakaian Adat Bali dan Filsafat di Balik Keanggunannya

Jika kita berkunjung ke Bali, kita seringkali melihat pakaian adat Bali dikenakan oleh warga asli yang sedang melakukan upacara adat, atau penari-penari Bali yang sedang menampilkan tarian tertentu. Pakaian adat ini mempunyai prinsip pemakaian yang berbeda antara lelaki dan perempuan, yang akan dibahas pada bagian selanjutnya dari artikel pakaian adat Bali dan penjelasannya. Penggunaannya pun juga berbeda-beda, tergantung situasi dan kesempatannya. Pakaian adat orang Bali merupakan salah satu dari banyaknya pakaian adat budaya Indonesia yang telihat anggun dan mewah dengan kombinasi warna yang memukau.

Jenis dan Penggunaan Pakaian Adat Bali

PAKAIAN ADAT BALI TRADISIONAL INDONESIA
Ada beberapa jenis pakaian adat dari provinsi Bali tergantung pada penggunaan dan situasi yang mengharuskan pemakaian jenis pakaian adat tertentu. Terdapat 3 jenis pakaian adat dari Bali yang ada: pakaian adat untuk acara keagamaan, untuk acara pernikahan, dan untuk acara sehari-hari. Pembeda antara pakaian adat Bali yang satu dengan yang lain, selain penggunaannya yang tergantung situasi dan kondisi, juga tergantung jenis kelamin si pemakai. Pakaian adat perempuan berbeda dengan pakaian adat laki-laki.
Dilihat dari harga satu set pakaian adat ini pun berbeda-beda juga, tergantung pada daya beli pemakai baju adat tersebut. Patokan harga songket Bali berkisar antara 500 ribu hingga jutaan, tergantung material bahan dari kain songket tersebut. Untuk songket yang berharga jutaan, kainnya terbuat dari benang emas yang pastinya akan terlihat indah jika dipakai. Jenis kain songket yang umumnya dipakai oleh kebanyakan masyarakat Bali adalah yang biasa dibeli di pasar atau toko-toko kain tradisional. Turis atau wisatawan yang ingin berbelanja atau mencoba memakai pakaian adat bisa bertanya tentang pakaian adat Bali dan keterangannya.
Selain terlihat indah dan anggun, pakaian adat Bali juga mempunya filsafat di balik penggunaan dan kelengkapannya, seperti baju-baju adat suku lain di Indonesia. Masyarakat Bali menggunakan pakaian adat yang lengkap jika menghadiri upacara adat keagamaan dan acara-acara adat yang diselenggarakan besar-besaran. Untuk pakaian adat tidak lengkap (biasa juga disebut madya), dikenakan pada acara sembahyang harian dan pada saat menghadiri acara-acara sosial dengan nuansa kegembiraan misalnya acara hajatan keluarga semacam penyambutan kelahiran seorang anak, pernikahan, atau syukuran.
Filsafat Pada Pakaian Adat Bali
Filsafat baju adat Bali bersumber akan kepercayaan pada Sang Hyng Widi atau Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa cara penggunaan pakaian adatnya mempunyai makna tertentu, misalnya peletakan selendang: jika diselempangkan di bahu kanan wanita artinya si pemakai mengharapkan kebahagiaan dan kesejateraan, sedangkan di bahu kiri berarti keinginan untuk menolak kesusahan atau untuk tolak bala. Beberapa kasta juga menambahkan ornamen pada pakaian adatyang mereka kenakan, sesuai dengan kasta mereka.

SUMBER  http://alatmusiktradisional.com/pakaian-adat-bali-dan-filsafat-di-balik-keanggunannya.html

Senin, 20 Januari 2014

Pakaian Adat Jawa Tengah dan Kelengkapannya

Jika sering kali melihat drama kolosal di TV yang ber-setting di jawa Tengah, pasti terbiasa juga melihat pakaian adat Jawa Tengah beserta kelengkapannya. Kebanyakan yang terlihat di stasiun TV adalah jenis pakaian adat suku jawa Tengah yang terlihat sederhana dan bersahaja. Yang wanita ada yang menggunakan baju atasan kebaya dipadu dengan rok jarik atau lilitan kain jarik batik, dililit menggunakan stagen atau kain berwarna cerah. Ada juga yang menggunakan kemben jarik yang dipakai hingga menutupi ketiak dan dililit oleh stagen berwarna warni. Fungsi stagen adalah sebagai pengikat atau pengencang yang dililitkan di perut agar kain kemben yang menutupi tubuh tidak mudah lepas.

Pakaian Adat Jawa Tengah Wanita

pakaian adat jawa tengah
Untuk acara-acara resmi, wanita Jawa menggunakan pakaian adat Jawa Tengah yang menggunakan peniti renteng, dipadukan dengan kain batik sebagai bawahannya. Rambut wanita Jawa yang panjang digelung atau dikonde, dan dilengkapi dengan tusuk rambut yang sesuai macamnya dengan perhiasan lain yang dia kenakan, seperti kalung, gelang, cincin, tak lupa juga kipas sebagai pelengkap aksesoris yang mereka pakai.
Pada pakaian adat Jawa Tengah bagi wanita, baju kebaya dipakai dengan kain jarik yang diwiru atau dilipat kecil-kecil dan dililitkan ke kiri dan ke kanan. Jarik lalu ditutup dengan menggunakan stagen atau kain yang dililit di perut agar jarik tidak mudah lepas. Untuk menutup stagen, wanita Jawa Tengah memakai selendang berwarna pelangi dari kain tenun berwarna semarak/cerah. Pakaian mereka biasanya dilengkapi dengan aksesoris seperti cincin, gelang, kalung, subang (anting) dan tusuk konde yang berwarna dan bertema senada.
Pakaian Pria
Bagi priyayi keraton, baju beskap bermotif bunga merupakan pakaian adat Jawa Tengah yang harus mereka pakai dalam kesehariannya. Di kepala, mereka memakai blangkon atau biasa disebut destar, dan bawahan yang kurang lebih bermodel sama seperti pakaian adat bagi wanita: kain jarik yang pemakaiannya dilapisi stagen agar tidak mudah terlepas. Mereka juga menggunakan alas kaki yang disebut cemila dana membawa keris yang disematkan pada stagen mereka di bagian punggung atau belakang di stagen. Pakaian pria Jawa yang seperti ini disebut sebagai pakaian Jawi Jangkep, atau pakaian adat Jawa lengkap dengan kerisnya.
Sedangkan di kalangan rakyat selain para priyayi, para lelaki menggunakan celana pendek selutut atau celana kolor yang berwarna hitam dengan baju atasan lengan panjang. Di samping itu mereka juga mengenakan ikat pinggang yang berukuran besar, ikat di kepala, dan kain sarung. Untuk mengetahui lebih banyak keterangan tentang pakaian adat, anda bisa mencari gambar pakaian adat Jawa Tengah dan pakaian adat provinsi Jawa Tengah wikipedia.

SUMBER  http://alatmusiktradisional.com/pakaian-adat-jawa-tengah-dan-kelengkapannya.html

Sabtu, 18 Januari 2014

Rumah Adat Papua dan Penjelasan Singkat Struktur Rumah

Sebagai orang Indonesia tentunya kita mengenal beberapa bentuk rumah adat yang ada di Indonesia, salah satunya rumah adat Papua atau yang biasa disebut Honai. Rumah ini dimiliki oleh suku Dani. Rumah Honai ini terbuat sepenuhnya dari bahan-bahan yang ada di alam, dengan material kayu pada badan rumah dan jerami sebagai bahan dari atap nya. Rumah ini terlihat tertutup karena tidak dilengkapi dengan jendela, karena memang fungsinya adalah untuk melindungi suku Dani yang tinggal di dalamnya dari udara dingin pegunungan Papua.

Rumah Adat Papua dan Uraiannya

RUMAH HONAI ADAT PAPU TRADISIONAL INDONESIA
Dengan tinggi sekitar 2 – 2.5 meter, rumah adat dari Papua terdiri dari 2 lantai. Lantai pertama biasanya terdiri dari kamar-kamar dan digunakan sebagai tempat tidur, dan lantai kedua digunakan sebagai tempat beraktifitas: ruang santai dan lain-lain. Di tengah ruangan di lantai pertama terdapat api unggun yang digunakan untuk menghangatkan diri. Rumah adat Papua Honai  merupakan rumah dengan arsitektur yang sederhana, inti dari rumah ini adalah rumah yang melindungi orang-orang yang tinggal di dalamnya dari udara dingin, tanpa fungsi rumit lainnya. Kesederhanaan ini mungkin yang dijadikan patokan utama bagi suku Dani untuk membangun rumah Honai mereka, karena mereka termasuk jenis suku yang kerap kali berpindah tempat. Kesederhanaan desain dan bentuk Honai memudahkan mobilitas mereka.
Jenis-Jenis Rumah Adat Papua
Rumah Adat Papua
Rumah Honai terdiri dari 3 jenis, yaitu rumah untuk para lelaki (disebut Honai), rumah untuk para wanita (disebut Ebei), dan rumah untuk ternak mereka, babi (disebut Wamai). Ada juga beberapa orang Papua yang tidak lagi tinggal di rumah adat Papua seperti pakem yang dulu ada, dan tinggal bersamaan antar anggota keluarga inti, namun ternak/babi selalu mendapatkan rumah tersendiri. Bagi orang Papua, ternak merupakan harta yang sangat berharga.
Rumah adat provinsi Papua sebenarnya hanya ada 1 jenis saja, yaitu Honai itu sendiri. Jika terdapat beberapa perbedaan, itu dikarenakan perbedaan daerahnya saja dan perbedaannya tidak begitu mencolok. Rumah Honai dibuat berkelompok, karena kadang satu keluarga membutuhkan lebih dari satu rumah untuk tempat ternak mereka tinggal, dan anak-anak yang sudah akil baligh/dewasa. Dilihat dari arsitekturnya yang sederhana, rumah ini berbentuk hampir seperti kerucut dengan batu-batu kecil mengelilingi rumah tersebut.
Keunikan khasanah kebudayaan bangsa tercermin dari banyaknya jenis rumah yang ada di Indonesia. Walaupun Honai merupakan rumah asli suku Dani, kita dapat menjumpainya di beberapa museum yang tersebar di Indonesia dikarenakan banyak juga orang yang penasaran atau ingin tahu jenis rumah suku Dani papua ini. Honai dan rumah-rumah adat suku lainnya merupakan bukti kekayaan budaya bangsa kita yang patut kita ketahui. Jika ingin mengetahui lebih banyak tentang rumah adat Papua, anda bisa mencarinya di internet dengan mencari rumah adat Papua wikipedia.

SUMBER  http://alatmusiktradisional.com/rumah-adat-papua-dan-penjelasan-singkat-struktur-rumah.html

Kamis, 16 Januari 2014

Rumah Adat Batak Toba dan Filosofinya

Jika anda suka mempelajari antropologi, maka pasti mengetahui rumah adat Batak adalah salah satu dari sekian banyak produk budaya yang ada di Indonesia. Ada beberapa bagian suku Batak, namun di sini akan membahas khusus tentang rumah adat suku Batak Toba saja. Nama rumah adat Batak Karo adalah rumah Bolon. Rumah ini ditempati 4 – 6 keluarga, dengan bentuk persegi memanjang. Jika ingin memasuki rumah ini, harus melalui tangga berjumlah ganjil yang terletak di bagian depan rumah dan harus menunduk dikarenakan ukuran pintunya yang rendah.

Anatomi Rumah Adat Batak

Rumah Adat Batak
Pintu yang rendah pada rumah adat Batak yang membuat para tamu yang mengunjunginya menunduk melambangkan kesopanan. Seseorang harus menunduk agar bisa masuk rumah tersebut, sama halnya dengan keharusan tamu menghormati pemilik rumah. Rumah Bolon termasuk dalam ketegori rumah panggung, namun mempunyai fungsi yang cukup berbeda dari rumah panggung seperti yang ada di Sunda (Jawa Barat). Jika di Jawa Barat rumah panggung bertujuan untuk menghindari serangan binatang buas, rumah Bolon berdiri hampir 2 meter di atas tanah dan permukaan atas tanah langsung, digunakan sebagai tempat untuk memelihara binatang ternak seperti ayam atau babi.
Dulunya rumah adat Batak Bolon mempunyai dua buah jenis pintu, pintu vertikal dan pintu horizontal. Namun seiring berkembangnya jaman, pintu horizontal tidak lagi pernah digunakan. Jika memasuki rumah Bolon, maka langsung terpapar ruangan yang luas. Walaupun rumah Bolon ditempati olah banyak keluarga, namun pembatasan dilakukan secara adat, apalagi bagi keluarga atau marga yang mempunyai adat yang kuat. Keluarga Batak dikenal sebagai keluarga yang rasa bersatunya kuat. Mempunyai rumah seperti rumah Bolon bagi suku Batak merupakan medium yang bisa memperkuat persatuan mereka sebagai suku Batak.
Bagian Dalam Rumah Adat Batak
Beberapa bagian dari rumah adat Batak mempunyai fungsi tersendiri, terkait dengan penghuni dan status sosialnya terutama di keluarga tersebut. Jabu Bong, ditempati oleh Porjabu bong. Jabu Bong adalah bagian dari rumah Bolon yang terletak di belakang sudut kanan rumah. Bagian Jabu Bong ditempati oleh porjabu bong, atau kepala rumah. Kepala rumah (porjabu bong) tinggal bersama istri dan anak-anak kecilnya. Bagian kedua rumah Bolon adalah jabu Soding, yang terletak berseberangan dengan Jabu Bong. Jabu Soding ditinggali oleh anak perempuan yang sudah menikah namun belum mempunyai rumah sendiri untuk ditinggali. Bagian ketiga dari rumah Bolon adalah Jabu Suhat, yang terletak sudut kiri depan. Jabu Suhat ditempati oleh anak laki-laki tertua yang sudah menikah. Bagian ke empat dari rumah ini adalah Tampar Piring, yang ditempati oleh tamu.
Jika anggota keluarga besar, maka ditambah dua kamar di sela-sela Jabu yang bersebelahan. Dan kedua Jabu ini disebut Jabu Tonga-Rona dan Jabu Rona. Walaupun tinggal seatap, tiap keluarga mempunyai dapur sendiri-sendiri yang terletak di bangunan terpisah di belakang rumah utama. Di tengah-tengah rumah terdapat ruang sisa yang biasanya dipakai untuk ruang bermusyawarah, dan dinamakan Telaga. Untuk keterangan yang lebih lengkap tentang rumah adat Batak, bisa mencari rumah adat Batak wiki.

SUMBER  http://alatmusiktradisional.com/rumah-adat-batak-toba-dan-filosofinya.html

Kamis, 28 Maret 2013

SALOKO JOWO

PARIBASAN-BEBASAN-SALOKA
Ungkapan bahasa Jawa merupakan ungkapan pikiran dan perasaan masyarakat Jawa yang mempunyai nilai-nilai luhur. Secara tradisional tercakup dalam “paribasan, babasan, isbat, pepindhan, saloka, sanepa” dan sebagainya. Ungkapan tersebut mengandung nilai-nilai luhur dan suci tentang keagamaan, adat istiadat, pendidikan moral, tingkah laku dan sebagainya.
Ungkapan bahasa Jawa lahir, hidup dan berkembang di lingkungan masyarakat Jawa secara lisan, dari mulut ke mulut dan tidak lagi diketahui siapa penciptanya. Isi dan maksud ungkapan Jawa penuh santun dan berisi semangat perdamaian secara sejuk serta berbudi luhur. Sebagai mahluk Tuhan yang berkebudayaan, apa yang baik karena merasa terpanggil lahirlah ungkapan “memayu hayuning bawana” (melindungi bagi kehidupan dunia).
Beberapa Ungkapan yang lain seperti :
“Ngelmu iku kalakone kanthi laku”
bila ingin pandai harus belajar). Ini berarti bahwa bila ingin pandai, seorang anak didik dalam keluarga harus belajar keras. Hal ini dapat disamakan dengan ungkapan
“Jer basuki mawa beya”
(keberhasilan seseorang diperoleh dengan pengorbanan).
“Nulada laku utama”
mencontoh perbuatan yang baik). Ini berarti semua anggota keluarga harus mencontoh pada perbuatan yang utama dan yang baik.
“Ngono ya ngono, ning aja ngono”
(demikian ya demikian, tetapi jangan demikian). Ini berarti berbuat boleh, berbicara boleh juga, tetapi jangan sampai menyakiti hati dan perasaan orang lain. Atau dalam berbuat jangan melewati wewenangnya. Ungkapan ini untuk mengendalikan diri, jangan berbuat melebihi wewenangnya dan jika berbicara jangan orang lain tersinggung.
“Aja Gugu karepe dewe”
(jangan berbuat sekehendak sendiri). Atau “Aja nuhoni benere dewe” (jangan merasa benar sendiri). Atau “Aja mburu menange dewe” (jangan mengejar/merasa menang sendiri). Ungkapan tersebut di atas sifatnya memperingatkan dalam keluarga atau lebih luas dalam masyarakat agar jangan menganggap dirinya yang paling benar, dalam tingkah laku, kepandaian dan kebijakan, pendapatdan lain sebagainya.
“Mikul dhuwur mendhem jero”
{memikul tinggi menanam dalam). Artinya orang yang senantiasa bertanggungjawab kepada keluarga dengan membawa nama baik keluarga atau orang tua. Dengan menjunjung derajat orang tua si anak akan harum namanya.
“Kacang mangsa tinggal lanjaran”
(kacang tidang mungkin meninggalkan jalur). Maksudnya, watak dan tingkah laku anak biasanya mirip dengan tingkah laku orang tua. Ini berarti bahwa orang tua harus yang baik kepada anak-anaknya agar anak-anaknya selalu merasa nyaman dalam kehidupan keluarga.
“Kaya mimi lan mintuna”
(seperti sepasang ikan mimi dan mintuna). Artinya kasih sayang ayah dan ibu, tidak bercerai-berai atau tidak dapat diceraikan dan selalu rukun. Kasih sayang ibu dan ayah, dapat digeser ke kasih sayang adik-kakak, orang tua-anak dan sebaliknya anak harus hormat kepada orang tua dan berbakti agar dalam keluarga tidak terjadi pertengkaran.
“Wong bodho dadi pangane wong pinter”
(orang yang bodoh menjadi objek rejeki orang yang pinter). Ungkapan ini menggambarkan perubahan dalam idealisme dan cara pendidikan keluarga yang berlainan. Dalam keadaan sekarang generasi muda harus rajin belajar, menjadi orang yang pandai untu kesuksesan hidupnya.
Ungkapan bahasa Jawa yang lain misalnya:
1. Adigang, adiguna, adiguna (Ngendelake kakuwatane, kaluhurane lan kapinteran)
2. Ana catur mungkur ( Ora gelem ngrungokake rerasan sing ora becik)
3. Ana daulate ora ono begjane (Wis arep nemu kabegjan, naing ora sido0
4. Ana gulo ana semut (Panggonan sing ngrejekeni, mesthi akeh wong sing nekani)
5. Anak polah bapak kepradhah (Wong tuwa nemu reribed amargo sako polahing anak)
6. Angon mangsa (Golek wektu sing prayogo)
7. Angon ulat ngumbar tangan (Nyawang kahanan jalaran arep nyolong0
8. Arep jamure emoh watange (Gelem kepenake ora gelem rekasane)
9. Asu arebut balung ( Pepadon rebutan barang sepele)
10. Asu belang kalung wang (Wong asor nanging sugih)
11. Asu marani gepuk (Njarak marani bahaya)
12. Ati bengkong oleh oncong (Duwe niyat ala oleh dalan)
13. Baladewa ilang gapite
14. Banyu pinerang
15. Bathok bolu isi madu
16. Bebek mungsuh mliwis
17. Becik ketitik, ala ketora
18. Belo melu seto
19. Mbidhung apirowang
20. Blaba wuda
21. Blilu tau pinter durung nglakoni
22. Bubuk oleh leng
23. Mburu uceng kelangan deleg
24. Busuk ketekuk, pinter keblinget
25. Car-cor koyo kurang janganan
26. Cathok gawel
27. Cebol nggayuh lintang
28. Cecak nguntal empyak
29. Cedhak celeng boloten
30. Ciri wanci lelai ginowo mati
31. Criwis cawis
32. Cuplek andeng2, ora prenah panggonane
33. Dadyo suket suthik nyenggut
34. Dahwen ati open
35. Dandang konen kontul, kontul konen dandang
36. Desa mowo coro negoro mowo toto
37. Demit ora dulit setan ora doyan
38. Digarukake dilukokake
39. Dipalangono mlumpat ditaleono medhot
40. Diwenehi ati ngroggoh rempelo
41. Dom sumurup ing banyu
42. Dudu sanak dudu kadang mati melu kelangan
43. Dudutan lan aculan
44. Durung ilang pupuk lempuyange
45. Durung pecus keselak besus
46. Emban cinde emban siladan
47. Embat-embat celarat
48. Emprit abuntut bedhug
49. Endhas pethak ketiban empyak
50. Entek golek kurang amek
51. Entek jarake …
52. Esuk dele sore tempe
53. Gagak nganggo laring merak
54. Gajah alingan suket teki
55. Nggajah elar
56. Gajah ngidak rapah
57. Gajah tumbuk, kancil mati tengah
58. Garang garing
59. Gawe luwangan, ngurugi luwangan
60. Nggayuh-nggayuh luput
61. Nggenthong umos
62. Gliyak-gliyak tumindak, sareh pakolen
63. Golek banyu bening
64. Golek-golek ketanggor wong luru-luru
65. Gupak pulut ora mangan nangkane
66. Idu didilat maneh
67. Iwak kalebu ing wuwu
68. Njagakake endhonge blorok
69. Njajah desa milang kori
70. Jalma angkara mati murka
71. Jalukan ora wewehan
72. Jati ketlusuban luyung
73. Jer basuki mawa beyo
74. Njujul wuwul
75. Njunjung ngentebake
76. Kadang konang
77. Kalah cacak menang cacak
78. Kandhang langit kemul mega
79. Katepang ngrangsang gunung
80. Katon cepoko sewakul
81. Kaya banyu karo lengo
82. Kebat kliwat gancang pincang
83. Kebanjiran segoro madu
84. Kebo ilang, tombok kandang
85. Kebo bule mati setra
86. Kebo kabotan sungu
87. Kebo lumumpat ing palang
88. Kebo mulih menyang kandhange
89. Kebo nusu gudel
90. Kagedhen empyak kurang cagak
91. Kejugrugan gunung menyan
92. Kelacak kepathak
93. Kenao iwake aja buthek banyune
94. Kendel ngringkel, dhadhag ora godag
95. Kencono katon wingko
96. Kenes ora ethes
97. Keplok ora tombok
98. Kere munggah bale
99. Kerot ora duwe untu
100Kerubuhan gunung
101. Kesandung ing rata, kebentus ing tawang
102. Ketulo-tulo ketali
103. Kethek saranggon
104. Kleyang kabur kanginan
105. Kongsi jambul uwanen
106. Kraket ing galer
107. Kriwikan dadi grojogan
108. Kumenthus ora pecus
109. Kutuk nggendhong kemiri
110. Kutuk marani sunduk
111. Ladak kecengklak
112. Lahang karoban manis
113. Lambe satumang kari samerang
114. Lanang kemangi
115. Lumpuh ngideri jagad
116. Madu balung tanpo isi
117. Maju tatu mundur ajur
118. Matang tuna numbak luput
119. Meneng widoro uleran
120. Menthung koja keno sembagine
121. Mikul duwur mendhem jero
122. Milih-milih tebu boleng
123. Mrojol selaning garu
124. Mubra-mubru blabur madu
125. Nabok nyilih tangan
126. Nucuk ngiberake
127. Nututi layangan pedhot
128. Ngagar metu kawul
129. Ngalasake negara
130. Ngalem legining gulo
131. Ngaturake kidang lumayu
132. Nglungguhi klasa gumelar
133. Nguthik-unthik macam dhedhe
134. Nguyahi segoro
135. Nyangoni kawulo minggat
136. Nyolong pethek
137. Nyunggi lumpang kentheng
138. Obah ngarep kobet buri
139. Opor bebek mentas awake dhewek
140. Ora ono banyu milimendhuwur
141. Ora ganja ora unus
142. Ora mambu enthong irus
143. Ora tembung ora luwung
144. Ora uwur ora sembur
145. Palang mangan tandur
146. Pandengan karo srengenge
147. Pecruk tunggu bara
148. Pitik trondol diumbar ing pandaringan
149. Pupur sawise benjut
150. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung
151. Rebut kemiring kopong
152. Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah
153. Sabaya pati, sabaya mukti
154. Sadumuk bathuk, sanyari bumi
155. Sandhing kebo gupak
156. Satru mungging cangklakan
157. Sedhakep ngawe-awe
158. Sembur-sembur adas, siram-siram bayem
159. Sepi ing pamrih, rame ing gawe
160. Sluman slumun slamet
161. Sumur lumaku tinimba
162. Tebu tuwuh socane
163. Tekek mati ing ulone
164. Tembang rawat-rawat, ujare bakul sinamberawa
165. Timun jinara
166. Timun wungkuk jaga imbuh
167. Tinggal nglanggang acolong playu
168. Tulung menthung
169. Tumbak cucukan
170. Tuna satak bathi sanak
171. Tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati
172. Tunggal Banyu
173. Tut Wuri handayani
174. Ulo marani gepuk
175. Ulat madhep ati karep
176. Undhaking pawarta sudaning kiriman
177. Welas tanpa alis
178. Wiwit kuncung nganti gelung
179. Yitna yuwana lena kena

KAWRUH JAWI

Arane dina(saptawara)
1.Ahad:Dite.
2.Senin:Soma.
3.Selasa:Anggara.
4.Rabu:Buda.
5.Kamis:Respati.
6.Jumuwah:Sukra.
7.Sabtu:Tumpak.
Arane Sasi Jawa
(1)Sura
(2)Sapar
(3)Mulud/Rabingurawal
(4)Bakdomulud/Rabingulakir
(5)Jumadilawal
(6)Jumadilakir
(7)Rejeb
(8)Ruwah
(9)Pasa
(10)Syawal
(11)Sela
(12)Besar
Arane Dino Enem
(1)Tungkis
(2)Uwas
(3)Mawulu
(4)Paningron
(5)Aryang
(6)Warukukung
Jenenge wuku
(1)Sinta
(2)Landep
(3)Wukir
(4)Kurantil
(5)Tolu
(6)Gumbreg
(7)Waligalit
(8)Warigagung
(9)JulungWangi
(10)Sungsang
(11)Galungan
(12)Kuningan
(13)Langkir
(14)Mandhasiya
(15)Julungpujut
(16)Pahang
(17)Kuruwelut
(18)Marakeh
(19)Tambir
(20)Madangkungan
(21)Maktel
(22)Wuye
(23)Manahil
(24)Prangbakat
(25)Bala
(26)Wugu
(27)Wayang
(28)Kulawu
(29)Dhukut
(30)Watugunung
Candrane alam(mangsa)
1.Mangsa Kasa : Satya murco soko ing embanan.Tundane :kekoyo podo brindil,gegodongan pada gogrok(22juni-1agustus)41 dino
2.Mangsa Karo : Bantala rengka.Tundane:lemah pada nelo(2agts-24agts)23 dino.
3.Mangsa Katelu : Suta manut ing bapa.Tuladhane:lung-lungan padha mrambat ing lanjarane/uwi,gadung lsp.(25agts-17sept)24 dina.
4.Mangsa Kapat : Waspa kumembeng jroning kalbu.Tundane:sumber padha pepet(18sept-12oktb)24 dina
5.Mangsa Kalima : Pancuran emas sumawur ing jagad raya.Tundane:wiwit ana udan(13oktb-8nopb)27 dina.
6.Mangsa Kanem : Rasa mulya kasucian.Tundane:woh-wohan padha nedheng-nedenge mateng(9nop-2des)42 dina.
7.Mangsa Kapitu : Wisa kentir ing maruta.Tundane:akeh lelara udan deres ngrejeh(22des-2feb)43 dina.
8.Mangsa Kawolu : Anjrah jroning kayun.Tundane:kucing padha gandhik(3fep-28/29feb)26/27 dina.
9.Mangsa Kasanga : Wedaring wacana mulya.Tundhane:gangsir padha ngentir,gareng padha ngareng(1mart-25mart)25 dina.
10.Mangsa Kasepuluh : Godhong mineb jroning kalbu.Tundane:kewan padha meteng(26mart-18aprl)24 dina.
11.Mangsa Destha : Tundane:manuk padha glogoh(19aprl-11mei)23 dina.
12.Mangsa Sadha : Mangsa mbediding/adem(12mei-21juni)41 dina.
Jenenge Tahun(Sajrone Sewindu)
1.(Alip )
2.(Ehe)
3.(JimawaI)
4.(Je )
5.(Dal)
6.(Be)
7.(wawu)
8.(Jemakir)
Jenenge Windu
1.(windu adi)
2.(kuntara)
3.(sangara)
4.(sancaya)
Jenenge Jaman
1.Kreta yoga : umure 100.000 th
2.Tretayoga : umure 10.000th
3.Dwaparayoga : umure 1.000th
4.Kaliyoga :wiwit tahun 78 masehi,tekan saiki lst.
Jenenge Keblat
1.Purwa :wetan(wiwitan)
2.Daksino : kidul
3.Pracimo : kulon
4.Utara : lor
5.Madya : tengah
Candrane wong minum
1.Eka padmasari : ngombe arak sak sloki menyang coyo(rai)katon sumringah koyo kembang teratai
2.Dwi amartani : ngombe arak 2 sloki marakke kalis ing pepati.
3.Tri kawulo busono : ngombe arak 3 sloki,solahe wiwit nganeh-anehi ora koyo adate
4.Catur wanara rakem : ngombe arak 4 sloki,guneme wiwit ndleming(koyo kethek mere-mere ing uwit rukem).
5.Panca sura panggah : ngombe arak 5 sloki,atine tatag(kendel)ora duwe roso sumelang.
6.Sad gana weweko : ngombe arak 6 sloki,ilang pangati-atine.
7.Sapta kukila warsa :ngombe arak 7 sloki,njedindil koyo manuk kodanan
8.Asta sacara-cara :ngombe arak 8 sloki,solah tingkahe wis ninggal kasusilan
9.Nawa yaksa mati :ngombe arak entek 9 sloki,awake lemes,nglumpruk tanpa daya
10.Dasa yaksa mati :ngombe arak 10 sloki,wis ora obah kaya buta mati

KAWRUH BASA SASTRA JAWA

KAWRUH BASA
ISTILAH-ISTILAH DALAM SASTRA JAWA

babad:sastra sejarah dalam tradisi sastra Jawa;
digunakaan untuk pengertian yang sama dalam tradisi
sastra Madura dan Bali; istilah ini berpadanan dengan
carita, sajarah [Jawa/Sunda], hikayat, silsilah, sejarah
[Sumatera, Kalimantan, dan Malaysia
bebasan: ungkapan yang memiliki makna kias dan
mengandung perumpamaan pada keadaan yang dikiaskan,
misalnya nabok nyilih tangan.
gancaran: wacana berbentuk prosa.
gatra: satuan baris, terutama untuk puisi tradisional.
gatra purwaka: bagian puisi tradisional [parikan dan
wangsalan] yang merupakan isi atau inti.
guru gatra: aturan jumlah baris tiap bait dalam puisi
tradisional Jawa [tembang macapat].
guru lagu: [disebut juga dhong-dhing] aturan rima
akhir pada puisi tradisional Jawa.
guru wilangan: aturan jumlah suku kata tiap bait dalam
puisi tradisional Jawa.
janturan: kisahan yang disampaikan dalang dalam
pergelaran wayang untuk memaparkan tokoh atau situasi
adegan.
japa mantra: mantra, kata yang mempunyai kekuatan gaib
berupa pengharapan.
kagunan basa: penggunaan kata atau unsur bahasa yang
menimbulkan makna konotatif; ada berbagai macam
kagunan basa, antara lain tembung entar, paribasan,
bebasan, saloka, isbat, dan panyandra.
kakawin: puisi berbahasa Jawa kuno yang merupakan
adaptasi kawyra dari India; salah satu unsur
pentingnya adalah suku kata panjang dan suku kata
pendek [guru dan laghu].
kidung: puisi berbahasa Jawa tengahan yang memiliki
aturan jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata tiap
baris, dan pola rima akhir sesuai dengan jenis metrum
yang membingkainya; satu pupuh kidung berkemungkinan
terdapat lebih dari satu pola metrum.
macapat: puisi berbahasa Jawa baru yang
memperhitungkan jumlah baris untuk tiap bait, jumlah
suku kata tiap baris, dan vokal akhir baris; baik
jumlah suku kata maupun vokal akhir tergantung atas
kedudukan baris bersangkutan pada pola metrum yang
digunakan; di samping itu pembacaannya pun menggunakan
pola susunan nada yang didasarkan pada nada gamelan;
secara tradisional terdapat 15 pola metrum macapat,
yakni dhandhang gula, sinom, asmaradana, durma,
pangkur, mijil, kinanthi, maskumambang, pucung,
jurudemung, wirangrong, balabak, gambuh, megatruh, dan
girisa.
manggala: “kata pengantar” yang terdapat di bagian
awal keseluruhan teks; dalam tradisi sastra Jawa kuno
biasanya berisi penyebutan dewa yang menjadi pujaan
penyair (isthadewata), raja yang berkuasa atau yang
memerintahkan penulisan, serta–meskipun tak selalu
ada–penanggalan saat penulisan dan nama penyair;
istilah manggala kemudian dipergunakan pula dalam
penelitian teks-teks sastra Jawa baru.
pada: bait
parikan: puisi tradisional Jawa yang memiliki gatra
purwaka (sampiran) dan gatra tebusan (isi); pantun
[Melayu].
parikan lamba: parikan yang hanya mempunyai
masing-masing dua baris gatra purwaka dan gatra
tebusan.
parikan rangkep: parikan yang mempunyai masing-masing
dua baris gatra purwaka dan gatra tebusan.
pepali: kata atau suara yang merupakan larangan untuk
mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu, misalnya
aja turu wanci surup.
pupuh: bagian dari wacana puisi dan dapat disamakan
dengan bab dalam wacana berbentuk prosa.
panambang: sufiks/akhiran
panwacara: satuan waktu yang memiliki daur lima hari:
Jenar (Pahing), Palguna (Pon), Cemengan (Wage), Kasih
(Kliwon), dan Manis (Legi).
Paribasan: ungkapan yang memiliki makna kias namun
tidak mengandung perumpamaan, misalnya dudu sanak dudu
kadang, yen mati melu kelangan.
pegon: aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan
bahasa Jawa.
pujangga: orang yang ahli dalam menciptakan teks
sastra; dalam tradisi sastra Jawa; mereka yang berhak
memperoleh gelar pujangga adalah sastrawan yang
menguasai paramasastra (ahli dalam sastra dan tata
bahasa), parama kawi (mahir dalam menggunakan bahasa
kawi), mardi basa (ahli memainkan kata-kata), mardawa
lagu (mahir dalam seni suara dan tembang), awicara
(pandai berbicara, bercerita, dan mengarang),
mandraguna (memiliki pengetahuan mengenai hal yang
‘kasar’ dan ‘halus’), nawung kridha (memiliki
pengetahuan lahir batin, arif bijaksana, dan
waskitha), juga sambegana (memiliki daya ingatan yang
kuat dan tajam).
saloka: ungkapan yang memiliki makna kiasan dan
mengandung perumpamaan pada subyek yang dikiaskan,
misalnya kebo nusu gudel.
saptawara: satuan waktu yang memiliki daur tujuh hari:
Radite (Ngahad), Soma (Senen), Buda (Rebo), Respati
(Kemis), Sukra (Jumuwah), dan Tumpak (Setu).
sasmitaning tembang: isyarat mengenai pola metrum atau
tembang; dapat muncul pada awal pupuh (isyarat pola
metrum yang digunakan pada pupuh bersangkutan) tetapi
dapatpula muncul di akhir pupuh (isyarat pola metrum
yang digunakan pada pupuh berikutnya.
sastra gagrak anyar: sastra Jawa modern, ditandai
dengan tiadanya aturan-aturan mengenai metrum dan
perangkat-perangkat kesastraan tradisional lainnya.
sastra gagrak lawas: sastra Jawa modern, ditandai
dengan aturan-aturan ketat
seperti–terutama–pembaitan secara ketat.
sastra wulang: jenis sastra yang berisi ajaran,
terutama moral.
sengkalan: kronogram atau wacana yang menunjukkan
lambang angka tahun, baik dalam wujud kata maupun
gambar atau seni rupa lainnya yang memiliki ekuivalen
dengan angka secara konvensional.
singir: syair dalam tradisi sastra Jawa.
sot: kata atau suara yang mempunyai kekuatan
mendatangkan bencana bagi yang memperolehnya.
suluk: [1] jenis wacana (sastra) pesantren dan
pesisiran yang berisi ajaran-ajaran gaib yang
bersumberpada ajaran Islam; [2] wacana yang
‘dinyanyikan’ oleh dalang dalam pergelaran wayang
untuk menciptakan ‘suasana’ tertentu sesuai dengan
situasi adegan.
supata: kata atau suara yang ‘menetapkan kebenaran’
dengan bersumpah.
tembung entar: kata kiasan, misalnya kuping wajan.
wangsit: disebut juga wisik, kata atau suara yang
diberikan oleh makhluk gaib, biasanya berupa petunjuk
atau nasihat.
wayang purwa: cerita wayang atau pergelaran wayang
yang menggunakan lakon bersumber pada cerita
Mahabharata dan Ramayana.
weca: kata atau suara yang mempunyai kekuatan untuk
melihat kejadian di masa mendatang.
wirid: jenis wacana (sastra) pesantren yang berkaitan
dengan tasawuf.
[Disalin dari buku Percik-percik Bahasa dan Sastra
Jawa; Karsono H Saputra; Keluarga Mahasiswa Sastra
Jawa Fakultas Sastra UI, 2001]

kawruh jawi

Jenenge Warna
*Rekta : Abang/seto/pinggul
*.Dawala : Putih
*.Langking/Kresna : Ireng
*.Wilis : ljo *.Pita jenar : Kuning
*.Bango tolak : Biru putih/ireng putih
*.Dadu : Abang enom
*.Pare anom : Ijo kuning
*Gula klapa : Abang putih
*.Kapuranto : Abang semu kuning
*.Silih asih : Abang enom/biru enom lsp.(warna loro di gathoake).
Jenenge Aji/jimat ing pedalangan
1.Bajrakaya:Panglereman.
2.Asmaracipta:Pengasihan.
3.Bandung bandawasa:Karosan.
4.Cakrabirawa:Sugih bala(buta).
5.Brajamusti:Ampuhing tenaga.
6.Naracabala:Banjir gaman.
7.Pancasona:Ora bisa mati,angger isi tememplek lemah.
8.Bajawara:Panah angin.
9.Jalasangara:Panah banyu.
10.Mantraniskala:Panglemunan(bisa ngilang).
11.Danuwenda:Panitisan.
12.Basusiksa:Pangadepaning kewan(kewan galak bisa tutut).
13.Lisah jayeng katong:Weruh sing ora katon.
14.Kalimasada:Tumbaling karaharjaning negara.
15.Kembang wijayakusama:Tumbal kanggo kaharjaning negara.
Jenenge Kembang
Kembang suruh (drenges )
Tales(pancal)
Timun(montro)
Widaraputih(rejasa)
salak(kethether)
So(uceng)
Randu(karuk)
Pring(krosak)
Pohung(ingklik)
Kencur(sedhet)
Kapas(kadi)
Kacang(besengut)
Jarak(juwis)
Jambu(karuk)
Jagung(sinuhun)
Gedhang(tuntut)
Duren(dlongop)
Cengkeh(polong)
Aren(dangu)
Cubung(torong)
Pete(pendul)
Pandan(pundak)
Nangka(angkup)
Lombok(menik)
Lamtara(jedhidig)
Kopi(blanggreng)
Kluwih(ontel)
Kimpul(pacal)
Kelor(limaran)
Krambil(manggar)
Kara(kepek)
Kanthil(gading)
Jengkol(kecuwis)
Jati(janggleng)
Jambe(mayang)
gembili(seneng)
Garut(gremeng)
Dhadhap(celung)
Blimbing(maya)
Jenenge Woh
Woh Aren(kolang-kaling)
Turi(klentahang)
Sambi(kecacil)
Jati(janggleng)
Besusu(bengkowang)
Gebang(klandhing)
Kanthil(handhek)
So(mlinjo) Pucung(kluwak)
Jambe(jebug) Dhadhap(blendung)
Jenenge Wit-witan
Wit Krambil(glugu)
Kapuk(randu)
Gedhang(debog)
Siwalan(bogor)
Mlinjo(bego)
Jagung(tebon)
Pari(damen)
Pringenom(bung)
Pringtuwo(bungkaran)
Kolang-kaling(aren)
Jambe(pucang)
Jenenge Wiji(isi)
Wiji Asem(klungsu)
Kecipir(botor)
Pelem(pelok)
Kapas(wuku)
Nangka(beton)
Randu(klentheng)
Krambil(kenthos)
Kates(trempos)
Kluwih(bethem)
Sawo(kecik)
Tanjung(kecik)
Salak(kenthos)
Duren(pongge)
Semangka(kwaci)
Kluwak(pucung)
Jambe(jebuk)
Jenenge Pentil
Pentil Asem(cemaluk)
Kweni(bendheo)
Mlinjo(kroto)
Pace(kudu)
Jambe(bleber)
Randu(karuk)
Kacang(besengut)
Pelem(pencit)
Manggis(blibar)
Timun(serit)
Jagung(janten)
Semangka(plonco)
Nangka(tewel,gori,babal)
Jambu(karuk)
Krambil(bluluk)
Jenenge Anak Kewan
Anak Yuyu(beyes)
Asu(kirik)
Kethek(munyuk)
Kidang(kompreng)
Welut(udet)
Babi(gembluk)
Kodhok(precil)
Baya(krete)
Ngangrang(kroto)
Urang(grogo)
Tuma(kor) T
ikus(cindhil)
Banteng(wareng)
Singo(dibal)
Macan(gogor)
Sapi(pedhet)
Pitik(kuthuk)
Bebek(meri)
Kebo(gudel)
Kancil(kenthi)
Bulus(ketul)
Bandeng(nener)
Kucing(cemeng)
Ula(ucel/kisi)
Kemonggo(criwi)
Cecak(sawiyah)
Celeng(genjik)
Lele(jabrisan)
Lutung(kowe)
Merak(kuncung)
Menjangan(komprang)
Gajah(bledug)
Warak(plencing)
Kadhal(tobil)
Cacing(lur)
Jaran(belo)
Jangkrik(gendholo)
Emprit(cindil)
Dara(piyek)
Lawa(kampret)
Lintah(pacet)
Manuk(piyek)
Menthok(minthi)
Banyak(blengur)
Kinjeng(senggutru).
Unine Kewan
Unine Jaran(mbengingeh,mbeker)
Wedus(embek)
Sapi(mbengah)
Kebo(ngoek)
Kucing(ngeong)
Asu(njegog,mbaung)
Macan(nggero,nggemprong)
UIa(ngekek,ngerik)
Kodhok(ngorek)
Tawon(mbrengengeng)
Gajah(ngempret)
Merak(nyangungong)
Kethek(mere)
Jago(kluruk)
Manuk(ngoceh)
Ayammalas(nyakiler)
Gangsir(ngenthir)
Jangkrik(ngerik)
Gareng(ngereng)
Gemak(melung).
Jenenge Godhong
Godhong Cocorbebek(tibo urip)
Dadhap(tamla)
Aren(dliring)
Asem(sinom)
Krambil(blarak)
Kelor(limaran)
Kecipir(cethithil)
Kates(gapleng)
Kacang lanjaran(lembayung)
Lombok(sabrang)
Pari(damen)
Randu(baladewa)
Tales(lumbu)
Turi(pethuk)
Jati(jompong)
Jarak(bledeg)
Jarakkebo(lemeh-lemeh)
Jambe(precel)
Gebang(kagang)
Gedhanggaring(klaras)
Krambilpupus(janur)
Lembayung(lirih)
Kacangbrol(rendeng)
Mlinjo(so)
Pring(elarmanyura)
Siwalan(lontar)
Telo(jlegor)
Widoroputih(trawas)
Jenenge Panggonan
Langgar(papan kanggo sembahyang utowo ngaji)
Krangkeng(kandang macan)
Kombong(omah kanggo pitik,bebek)
Klenteng(papan kanggo sembahyang wong cino)
Bango(papan kanggo dodolan ono pasar)
Bothekan(wadahe jamu utowo bumbu)
Gedhogan(kandang jaran)
Glodogan(omahe tawon)
Gredhu(omah kanggo jaga kampung)
Gowok(susuhe manuk/bolongan ing wit gedhe)
Kedaton(daleme ratu)
Kandang(omahe rajakaya kebo,sapi lsp)
Gudhang(omah kanggo nyimpen barang-barang)
Warongka(wadhahe keris)
Tambak(blumbangan kanggo ngingu iwak)
Susuh(omahe manuk mongso ngendok)
Pagupon(omahe dara)
Tala(omahe tawon)
Tangsi(omahe tentara sekeluarga)
Loji(omah gedhong sing apik)
Pedharingan(wadahe beras)
Lumbung(papan kanggo nyimpen pari)
Paga(papan kanggo nyimpen grabah)
Pawon(panggonan kanggo olah-olah)

Kamis, 05 April 2012

7 SENJATA PUSAKA INDONESIA YANG MELEGENDA / MACAM MACAM PUSAKA

1. Keris Mpu gandring

Keris pusaka legendaris yang terkenal dalam riwayat pendirian kerajaan Singhasari. Pedang ini ditempa oleh Mpu Gandring, seorang pandai besi yang sangat sakti atas pesanan Ken Arok. Ken Arok meminta agar keris tersebut selesai dalam 1 malam saja. Karena kesaktiaannya, keris berhasil diselesaikan dalam satu malam. Tapi ketika Mpu Gandring tengah membuat sarung keris, Ken Arok tiba-tiba datang karena menurut dia waktunya telah 1 hari. Mpu Gandring ditusuk Ken Arok karena dianggap tidak menepati janji untuk menyelesaikan keris dalam waktu 1 malam. Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok.Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singhasari dengan korban Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Ken Arok, Anusapati, Tohjaya.



2. Keris kyai condong campur
Condong Campur adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda dan folklor.
Keris ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur.
Keris ini merupakan salah satu dapur keris lurus. Panjang bilahnya sedang dengan kembang kacang,
satu lambe gajah, satu sogokan di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah,
sogokan belakang tidak ada. Selain itu, keris ini juga menggunakan gusen dan lis-lis-an.
Konon keris pusaka ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang mpu. Bahan kerisnya diambil dari
berbagai tempat. Dan akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh tetapi memiliki watak
yang jahat.
3. Keris kyai setan kober
Keris ini sama legendarisnya dengan Keris Mpu Gandring. Berapa luk masih belum diketahui,
tapi kalo menurut kula keris ini lurus tanpa luk, ciri khas keris yg dipakai dalam perang.
Pembuatnya tidak diketahui secara pasti karena tercampur dg tahayul yg tidak jelas.
Pemegang keris ini adalah Adipati dari Kadipaten Jipang Panolang yang juga sangat legendaris, Arya
Penangsang.
Keris ini konon, bila dicabut dari warangkanya akan menimbulkan sugesti yang hebat bagi orang2 disekitarnya.
Sugesti yg berbentuk angin ribut seperti setan2 yg berkejaran.
Arya Penangsang sendiri dikenal memiliki ilmu kebal.
Musuh sepadan keris ini adalah tombak kyai Plered yg juga melegenda.
Sewaktu konflik melawan Penangsang, Adipati Hadiwijaya (joko tingkir) mengutus Danang Sutowijoyo
untuk menantang Penangsang di bukit Menoreh dan membekalinya dg tombak keramat tsb.
Hadiwijaya juga dikenal ahli strategi. Beliau tahu kalau Penangsang mempunyai kuda jantan jenius
bernama Gagak Rimang. Kuda ini seperti memiliki koneksi batin dg Penangsang.
Kemanapun pengendara berpikir, kesana juga Gagak Rimang. Tanpa harus dikendalikan dengan tali kekang.
Untuk mengatasi masalah ini, Hadiwijaya menyuruh Danang menantang Penangsang disaat musim
kimpoi kuda dan menyuruh Danang memakai kuda betina. Strategi lainnya, Danang disuruh datang terlebih dahulu
dan mengambil posisi diatas bukit.
Pada hari H, Danang yg berada dilereng bagian atas terlebih dahulu. Ketika Penangsang datang,
kudanya yang secara alami berada dipuncak birahi melihat kuda betina tunggangan Danang.
Hal ini membuat sang kuda tak terkendali sehingga dg mudah Danang menusukkan tombak kyai Plered ke perut Arya
Penangsang. Tombak bertuah ini berhasil merobek badan kebal Penangsang mengakibatkan ususnya terburai.
Walaupun mengalami critical injured seperti ini, Arya Penangsang kembali tegak berdiri dan menguntaikan
ususnya sendiri ke gagang keris dan berlari mendekati Danang. Ketika dekat, Aryo Penangsang
draw his blade. Sayang, Aryo Penangsang lupa kalau ada ususnya sendiri disitu, ketika keris tercabut justru memutus usus tsb.
Dan berakhirlah riwayat adipati gagah ini dg cara yg luar biasa.
Hadiwijaya yg melihat semua ini menjadi kagum, dan menyuruh Danang bila menikah nanti meniru sikap gagah Aryo Penangsang.
Danang Sutowijoyo melakukan wejangan tersebut dan untaian usus di gagang keris diganti dengan
untaian kembang melati. Tradisi yg dipertahankan hingga sekarang.
4. Keris kyai sengkelat
Kyai Sengkelat adalah keris pusaka luk tiga belas yang diciptakan pada jaman Majapahit (1466 – 1478), yaitu pada masa pemerintahan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) karya Mpu Supa Mandagri.
Mpu Supa adalah salah satu santri Sunan Ampel. Konon bahan untuk membuat Kyai Sengkelat adalah cis, sebuah besi runcing untuk menggiring onta. Konon, besi itu didapat Sunan Ampel ketika sedang bermunajat. Ketika ditanya besi itu berasal darimana, dijawab lah bahwa besi itu milik Muhammad saw. Maka diberikan lah besi itu kepada Mpu Supa untuk dibuat menjadi sebilah pedang.
Namun sang mpu merasa sayang jika besi tosan aji ini dijadikan pedang, maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas dan diberi nama Kyai Sengkelat. Setelah selesai, diserahkannya kepada Sunan Ampel. Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Menurutnya, keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu, seharusnya besi itu dijadikan pedang yang lebih cocok dengan budaya Arab, tempat asal agama Islam. Maka oleh Sunan Ampel disarankan agar Kyai Sengkelat diserahkan kepada Prabu Brawijaya V.
Ketika Prabu Brawijaya V menerima keris tersebut, sang Prabu menjadi sangat kagum akan kehebatan keris Kyai Sengkelat. Dan akhirnya keris tersebut menjadi salah satu piyandel (maskot) kerajaan dan diberi gelar Kangjeng Kyai Ageng Puworo, mempunyai tempat khusus dalam gudang pusaka keraton.
Pusaka baru itu menjadi sangat terkenal sehingga menarik perhatian Adipati Blambangan. Adipati ini memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencuri pusaka tersebut demi kejayaan Blambangan, dan berhasil. Mpu Supa yang telah mengabdi pada kerajaan Majapahit diberi tugas untuk mencari dan membawa kembali pusaka tersebut ke Majapahit. Dalam menjalankan tugasnya, sang Mpu menyamar sebagai seorang pandai besi yang membuat berbagai alat pertanian dan mengganti namanya menjadi Ki Nambang.
Di samping pandai membuat alat pertanian, beliau juga membuat tombak, pedang dan keris yang kemudian dipamerkan di tempat-tempat keramaian, di Blambangan. Seketika pameran tersebut memancing perhatian banyak orang. Banyak sekali pesanan datang dari para pejabat kadipaten Blambangan. Termasuk patih Adipati Blambangan yang memesan Keris Carangsoka.
Akhirnya sang adipati Blambangan menyaksikan keris ciptaan Ki Nambang, sebilah keris Carangsoka yang sangat bagus dan ampuh. Ketika ditusukkan ke pohon pisang, seketika itu seluruh daun pisang menjadi layu. Karenanya sang mpu di undang untuk menghadap ke kadipaten guna membicarakan suatu hal yang rahasia dengan alasan agar percikan bunga api besi bahan kerisnya, tidak menjadi bencana bagi rakyat Blambangan.
Ternyata setelah Ki Nambang datang menghadap, didapatnya tugas untuk membuat “putran” atau tiruan Kangjeng Kyai Puworo (Keris Sengkelat). Ki Nambang dengan siasatnya meminta disediakan perahu untuk membuat tiruan Kyai Sengkelat dengan alasan percikan bunga api besi bahan kerisnya tidak menimbulkan bencana bagi rakyat Blambangan.
Singkat cerita, akhirnya rencana mendapatkan kembali keris pusaka Majapahit itu berhasil tanpa harus menimbulkan kecurigaan dan pertumpahan darah. Malah Ki Nambang akhirnya dianugerahi seorang putri kadipaten yang bernama Dewi Lara Upas, adik dari Adipati Blambangan itu sendiri. Serta mendapatkan gelar kebangsawanan sebagai Kangjeng Pangeran berikut tanah perdikan di Desa Pitrang. Maka namanya pun berubah menjadi Kangjeng Pangeran Pitrang yang bekerja sebagai mpu kadipaten Blambangan.
Sang Mpu yang berhasil melaksanakan tugas selalu mencari cara agar dapat kembali ke Majapahit. Ketika kesempatan itu tiba maka beliau pun segera kembali ke Majapahit dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Sebelum pergi, beliau meninggalkan pesan kepada sang istri bahwa kelak jika anak mereka lahir laki-laki agar diberi nama Joko Suro, serta meninggalkan besi bahan membuat keris.
Lima belas tahun kemudian setelah Mpu Pitrang meninggalkan Blambangan, datang lah seorang pemuda yang mengaku sebagai anak mpu Supa. Ketika ditanya, ia mengaku bernama Joko Suro. Mpu meminta bukti berupa besi bahan membuat keris. Namun ketika diserahkan oleh Joko Suro, besi bahan itu telah menjadi sebilah keris. Ternyata selama dalam perjalanan mencari ayahandanya, besi itu oleh Joko Suro dipijit-pijit dan ditarik olehnya hingga menjadi sebilah keris kecil. Maka keris itu pun dinamakan Keris Kyai Bethok yang mempunyai keampuhan menyingkirkan niat jahat.

5. Keris kyai carubuk
Dalam satu legenda dikisahkan Sunan Kalijaga meminta tolong untuk dibuatkan keris coten-sembelih (pegangan lebai untuk menyembelih kambing). Lalu oleh beliau diberikan calon besi yang ukurannya sebesar biji asam jawa. Mengetahui besarnya calon besi tersebut, Empu Supa sedikit terkejut. Ia berkata besi ini bobotnya berat sekali, tak seimbang dengan besar wujudnya dan tidak yakin apakah cukup untuk dibuat keris. Lalu Sunan Kalijaga berkata kalau besi itu tidak hanya sebesar biji asam jawa tetapi besarnya seperti gunung. Karena ampuh perkataan Sunan Kalijaga, pada waktu itu juga besi menjelma sebesar gunung.Hati empu Supa menjadi gugup, karena mengetahui bahwa Sunan Kalijaga memang benar-benar wali yang dikasihi oleh Pencipta Kehidupan, yang bebas mencipta apapun. Lantaran itu, empu Supa berlutut dan takut. Ringkas cerita, besipun kemudian dikerjakan. Tidak lama, jadilah keris, kemudian diserahkan kepada Sunan Kalijaga. Akan tetapi anehnya begitu melihat bentuknya, seketika juga Sunan Kalijaga menjadi kaget, sampai beberapa saat tidak dapat berbicara karena kagum dan tersentuh perasaannya, karena hasil kejadian keris itu berbeda jauh sekali dengan yang dimaksudkan. Maksud semula untuk dijadikan pegangan lebai, ternyata yang dihasilkan keris Jawa (baca Nusantara) asli Majapahit, luk tujuhbelas. Sebenarnya, begitu mengetahui keindahan keris, perasaan Sunan Kalijaga agak tersentuh, oleh karena itu mengamatinya sempai puas tidak bosan-bosannya. Kemudian ia berkata sambil tertawa dan memuji keindahan keris itu.Lalu Empu Supa diberi lagi besi yang ukurannya sebesar kemiri. Setelah dikerjakan, jadilah sebilah keris mirip pedang suduk (seperti golok atau belati). Begitu mengetahui wujud keris yang dihasilkan sunan Kalijaga sangat senang hatinya. keris itu disebut Kyai Carubuk. keris kyai carubuk ini akhirnya menjadi pusaka sultan hadiwijaya, bahkan sanggup mengalahkan keris setan kober milik arya penangsang ketika pesuruh arya penangsang melakukan percobaan pembunuhan pada sultan hadiwijaya dengan memakai keris setan kober

6. Tombak kyai plered
tombak sepanjang 3.5 meter ini merupakan senjata pusaka milik Kraton Ngayugyakarta Hadiningrat (Yogyakarta) dijamasi setiap setahun sekali saat bulan Syura. senjata ini merupakan pegangan Raja Mataram Pertama yang bernama Panembahan Senapati (Nama Asli: Danang Sutawijaya) dan digunakan untuk mengalahkan Bupati Jipang Arya Penangsang dalam perang tanding di pinggir Bengawan Solo.

7. Tombak baru klinting
menurut legenda merupakan titisan dari Naga Baru Klinting yang dihukum ayahnya (Ki Ageng MAngir Wanabaya) karena gagal melingkari gunung merapi.
aslinya senjata berujud tombak ini sebelumnya adalah pusaka milik Ki Ageng Mangir Wanabaya yang memberontak kepada panembahan Senopati. karena keampuhan senjata ini, panembahan Senapati terpaksa mengutus Putrinya Nyi Ageng Pembayun untuk mengelabuhi Ki Ageng Mangir. saat ini tombak ini tersimpan di Kraton Ngayugyakarta Hadiningrat (Yogyakarta) sebagai senjata pusaka pendamping tombK Kanjeng Kyai Plered.

Senin, 26 Maret 2012

MENGENAL BATIK INDONESIA

Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik"

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009

Sejarah Batik indonesia
Sejak dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. dan sampai sekarang pun batik di indonesia berkembang pesat. sampai para blogger cinta dan menyukai batik karya indonesia.

Macam macam bentuk dan model batik
nah dibawah ini adalah contoh dari motif gambar batik indonesia.

Blogger Indonesia Cinta Batik
Indonesia Cinta Batik
Batik Indonesia
Blogger Indonesia Cinta Batik Indonesia

Cara pembuatan Batik
Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

proses pembuatan batik indonesia
Proses pembuatan batik di indonesia

Jenis batik
Menurut teknik :
  • Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
  • Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
  • Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.

macam-macam batik DI INDONESIA

Batik adalah salah satu unsur budaya dasar bangsa Indonesia. Sejak zaman nenek moyang bangsa Indonesia sudah membuat batik. Hal ini terbukti dengan ditemukannya hiasan dengan motif batik pada keramik. Indonesia kaya akan macam-macam batik dengan teknik, ragam hias yang sangat beragam.
Macam-Macam Ragam Hias Batik
Jika dilihat dari ornamennya, batik di daerah-daerah Indonesia banyak yang bersumber dari ragam hias zaman prasejarah seperti motif geometris dan perlambangan. macam-macam batik dapat dilihat dari motif yang dipakai. Seperti halnya kebudayaan, ragam hias pada batikpun mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh lingkungannya.

Ragam hias batik dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis, yaitu batik yang menggunakan motif-motif berikut.
  1. Motif Geometris dengan pola hias tumpal, meander dan pola pilin.
  2. Motif tumbuhan, contohnya mengambil bentuk dari tumbuhan menjalar, tumbuhan air, bunga.
  3. Motif hewan, contohnya singa barong, kupu-kupu, dan sebagainya.
  4. Motif benda alam, seperti kapas, padi, dan sebagainya.
Sehubungan dengan itu ragam macam-macam batik dikelompokkan menjadi dua kelompok.
Pertama, batik Keraton adalah batik yang tumbuh di lingkungan istana khususnya berkembang di daerah Jawa Tengah. Motif yang dihasilkan berdasarkan pada filsafat kebudayaan Jawa yang mengacu pada nilai spiritual. Kedua, batik pesisir adalah batik yang dihasilkan di lingkungan luar keraton yang mengalami pertumbuhan yang berbeda dengan batik keraton.
Teknik Pembuatan Batik
Batik merupakan teknik rekalatar, pengerjaannya dengan menggunakan perintang warna sejenis lilin yang dikenal dengan nama malam. Adan 3 teknik pembuatan batik, yaitu batik tulis, batik cap, dan batik printing.
1.  Batik Tulis
Batik ini dibuat dengan cara melukiskan pola pada kain dengan menggunakan tangan. Pembuatan batik tulis diperlukan alat-alat sebagai berikut.
  • Canting adalah alat pokok dalam membuat batik. Canting terbuat dari tembaga gunanya untuk melukis dengan menggunakan cairan malam (lilin batik).
  • Gawangan adalah kayu yang dipakai untuk membentangkan kain yang akan dibatik.
  • Wajan/Grengseng adalah kuali yang terbuat dari tanah liat untuk mencairkan malam.
  • Anglo adalah perapian yang terbuat dari tanah liat, api dinyalakan dengan menggunakan arang kayu.
  • Tepas/Tipas digunakan untuk membesarkan api.
  • Jegol adalah kuas yang terbuat dari kumpulan benang digunakan untuk menutupi bidang blok yang besar.
  • Kuas digunakan untuk membatik dengan gaya abstrak.
2.  Batik Cap
Batik cap adalah motif pada kain yang dihasilkan dari proses pencelupan dengan alat terbuat dari lempengan tembaga dengan ukuran 20 cm x 20 cm atau 24 cm x 2 cm sesuai dengan motifnya. Dalam proses mencetak yang perlu diperhatikan adalah sambungan pada sisinya (sanggit) sehingga motif tidak terlihat terkotak-kotak, namun menjadi satu kesatuan. Cara menempelkan cap pada kain adalah dengan menggunakan setrika.
3.  Batik Printing
Batik Printing adalah pembuatan batik yang proses pembuatannya hampir sama dengan pembuatan tekstil lainnya yang menjadi pembeda adalah motifnya batik. Batik dengan printing agar terjaga keawetannya jika dicuci tidak boleh dengan menggunakan sabun. Sebagai gantinya adalah buah lerak atau daun dilem. Pada waktu menjemurnya, jangan langsung terkena sinar matahari.

Senin, 19 Maret 2012

kumpulan jenis-jenis Alat Musik Tradisional Indonesia yang tersebar di berbagai provinsi.

kumpulan jenis-jenis Alat Musik Tradisional Indonesia 
yang tersebar di berbagai provinsi. 

ANGKLUNG

alat musik tradisional angklung alat musik daerah angklung mang udjo Alat Musik Tradisional Indonesia
Alat Musik Tradisional Angklung Jawa Barat
Angklung adalah alat musik yang secara tradisional berkembang di masyarakat Jawa Barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi.

BEDUG

alat musik tradisional bedug alat musik daerah bedug terbesar beduk ketupat 300x224 Alat Musik Tradisional Indonesia
Alat Musik Tradisional Bedug
Bedug merupakan alat musik tradisional yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, yang memiliki fungsi sebagai alat komunikasi pada zaman dahulu, baik dalam kegiatan ritual keagamaan maupun komunikasi antar masyarakat. Saat ini Bedug biasanya digunakan untuk memberi tahu masyarakat saat memasuki waktu shalat fardhu. Bedug biasanya juga digunakan saat masyarakat mengadakan takbir keliling untuk menyambut hari raya Idul Fitri atau hari raya Idul Adha.

CALUNG

alat musik tradisional calung alat musik daerah calung jawa barat 300x200 Alat Musik Tradisional Indonesia
Alat Musik Calung
Dilihat dari bentuknya, banyak masyarakat yang menyamakan Calung dengan Angklung. Meskipun hampir sama, namun cara membunyikan alat musik tersebut sangat berbeda. Angklung agar keluar bunyinya hanya digoyangkan, sedangkan cara menabuh Calung harus dengan cara memukul batang-batang bambu.

GAMELAN

alat musik tradisional gamelan alat musik daerah gamelan jawa bali 300x210 Alat Musik Tradisional Indonesia
Alat Musik Gamelan Jawa
Gamelan berasal dari bahasa Jawa yang artinya memukul atau menabuh. Beberapa provinsi yang sampai saat ini masih memakai gamelan saat acara-acara adat yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah maupun di Bali. Gamelan saat ini juga makin terkenal saat dipakai untuk acara komedi yang sangat populer di televisi yaitu Opera Van Java (OVJ).

KACAPI

alat musik kacapi parahu asli sunda kecapi sunda alat musik daerah kecapi jawa barat 300x179 Alat Musik Tradisional Indonesia

Alat Musik Kacapi Sunda
Alat musik kacapi sangat populer di kalangan masyarakat Sunda dan dipakai saat acara-acara yang berhubungan dengan kebudayaan.

KOLINTANG

alat musik kolintang minahasa alat musik kulintang berasal dari minahasa 300x225 Alat Musik Tradisional Indonesia
Alat Musik Kolintang Minahasa Sulawesi Utara
Alat musik Kolintang merupakan alat musik asli daerah Minahasa Sulawesi Utara. Nama kolintang menurut masyarakat Minahasa berasal dari suaranya: tong (nada rendah), ting (nada tinggi) dan tang (nada biasa). Dalam bahasa daerah setempat berarti, ajakan “Mari kita lakukan TONG TING TANG” adalah: ” Mangemo kumolintang”. Ajakan tersebut akhirnya berubah menjadi kata kolintang agar mudah dilafal oleh masyarakat.

PERERET PENGASIH-ASIH

alat musik Pereret Pengasih asih bali Alat Musik Tradisional Indonesia
Pereret Pengasih-asih Alat Musik Tradisional Bali
Pereret Pengasih-asih merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Jembrana Bali. Alat musik tersebut mirip dengan alat musik terompet, namun terbuat dari kayu yang dibentuk sedemikian rupa yang akhirnya mengeluarkan bunyi-bunyian seperti terompet.

REBAB

alat musik tradisional rebab alat musik rebab melayu dan jawa tengah jawa barat arab 225x300 Alat Musik Tradisional Indonesia
Alat Musik Daerah "Rebab"
Alat musik Rebab sendiri awalnya berasal dari jazirah Arab. Awal masuk ke Indonesia sekitar abad ke-8 saat para saudagar Arab memulai invasi dagang ke beberapa daerah pesisir Sumatera dan pesisir Jawa. Alat musik Rebab sendiri merupakan alat musik gesek yang terdiri dari 2 atau tiga utas senar.

REBANA

alat musik rebana hadroh burdah hadrah aceh kecil besar 300x225 Alat Musik Tradisional Indonesia
Alat Musik Tradisional Rebana
Alat musik Rebana asal usulnya berasal dari Jazirah Arab seperti halnya Rebab. Alat musik Rebana sendiri biasanya digunakan dalam kesenian yang bernafaskan agama Islam seperti hadrah ataupun saat membaca shalawat burdah.

SALUANG

alat musik tradisional saluang minangkabau alat musik daerah minangkabau sumatera barat Alat Musik Tradisional Indonesia
Alat Musik Tradisional Saluang dari Minangkabau
Alat musik Salang merupakan alat musik tradisional masyarakat Minangkabau Sumatera Barat. Alat musik tersebut merupakan alat musik tiup yang serupa dengan alat musik seruling, namun pembuatannya lebih sederhana yaitu dengan melubangi bambu tipis atau yang biasa disebut oleh masyarakat Minang dengan talang sebanyak 4 lubang.

SASANDO

alat musik sasando rote nusa tenggara timur alat musik tradisional indonesia sasando 300x192 Alat Musik Tradisional Indonesia
Sasando, Alat Musik Tradisional Asal Rote
Sasando merupakan alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari Pulau Rote Nusa Tenggara Timur. Sasando sendiri berasal dari kata Sari (petik) dan Sando (getar) yang kalau digabungkan memiliki makna bergetar saat dipetik. Sasando dimainkan dengan dua tangan dari arah berlawanan, kiri ke kanan dan kanan ke kiri. Tangan kiri berfungsi memainkan melodi dan bas,  sementara tangan kanan bertugas memainkan accord.

SAMPEK

alat musik tradisional sampek kalimantan alat musik sampe suku dayak 225x300 Alat Musik Tradisional Indonesia
Sampek, Alat Musik Tradisional Suku Dayak dari Kalimantan
Sampek merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Kalimantan tepatnya biasanya digunakan oleh Suku Dayak. Alat musik ini terbuat dari berbagai jenis kayu. Namun, yang paling sering dijadikan bahan adalah kayu arrow, kayu kapur, dan kayu ulin dan dibuat secara tradisional. Proses pembuatan bisa memakan waktu berminggu minggu. Dibuat dengan 3 senar, 4 senar dan 6 senar. Biasanya sampek akan diukir sesuai dengan keinginan pembuatnya.

TALEMPONG

alat musik tradisional talempong minangkabau sumatera barat talempong kuningan batu kayu 300x198 Alat Musik Tradisional Indonesia
Talempong, Alat Musik Daerah Minangkabau Sumatera Barat
Talempong merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Minangkabau Sumatera Barat. Alat musik tersebut termasuk dalam alat musik pukul seperti halnya Gamelan yang ada di Jawa. Bahkan bentuknya pun juga hampir sama dengan Gamelan. Saat ini Talempong yang ada dimasyarakat kebanyakan terbuat dari kuningan meskipun masih ada juga Talempong yang terbuat dari kayu maupun batu.  Talempong biasanya berbentuk lingkaran dengan diameter 15 sampai 17,5 sentimeter, pada bagian bawahnya berlubang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat untuk dipukul.

TAMBO

 Alat Musik Tradisional Indonesia
Tambo, Alat Musik Tradisional dari Aceh
Alat musik Tambo merupakan alat musik yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam. Cara penggunaan alat ini sama seperti Tambur yaitu dengan cara dipukul. Dulunya alat tradisional tersebut dipakai sebagai tanda saat memasuki waktu shalat fardhu.

TRITON

alat musik triton alat musik papua irian jaya 300x176 Alat Musik Tradisional Indonesia
Triton, Alat Musik Tradisional dari Papua
Triton merupakan alat musik yang cara penggunaannya yaitu dengan ditiup. Alat musik tradisional ini berasal dari Papua. Alat musik ini tersebar di pesisir pantai yang ada di Papua dan digunakan sebagai alat komunikasi dan sebagai alat panggil kepada orang lain.

ALAT MUSIK TRADISIONAL TIFA

alat musik tradisional Tifa Maluku 300x225 Alat Musik Tradisional Indonesia
Tifa, Alat Musik Tradisional Maluku
alat musik tradisional TIFA Papua Alat Musik Tradisional Indonesia
Tifa, Alat Musik Tradisional dari Papua
Alat musik tradisional Tifa termasuk jenis alat musik pukul. Tifa terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau dihilangkan isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan biasanya penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah.

TEROMPET REOG

alat musik tradisional terompet reog ponorogo Alat Musik Tradisional Indonesia
Alat Musik Terompet Reog
Terompet Reog merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Ponorogo Jawa Timur. Alat musik ini biasanya digunakan sebagai pengiring saat pertunjukan Reog Ponorogo. Alat musik ini termasuk dalam jenis alat musik tiup