Tampilkan postingan dengan label ILMU TOSAN AJI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ILMU TOSAN AJI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 April 2012

7 SENJATA PUSAKA INDONESIA YANG MELEGENDA / MACAM MACAM PUSAKA

1. Keris Mpu gandring

Keris pusaka legendaris yang terkenal dalam riwayat pendirian kerajaan Singhasari. Pedang ini ditempa oleh Mpu Gandring, seorang pandai besi yang sangat sakti atas pesanan Ken Arok. Ken Arok meminta agar keris tersebut selesai dalam 1 malam saja. Karena kesaktiaannya, keris berhasil diselesaikan dalam satu malam. Tapi ketika Mpu Gandring tengah membuat sarung keris, Ken Arok tiba-tiba datang karena menurut dia waktunya telah 1 hari. Mpu Gandring ditusuk Ken Arok karena dianggap tidak menepati janji untuk menyelesaikan keris dalam waktu 1 malam. Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok.Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singhasari dengan korban Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Ken Arok, Anusapati, Tohjaya.



2. Keris kyai condong campur
Condong Campur adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda dan folklor.
Keris ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur.
Keris ini merupakan salah satu dapur keris lurus. Panjang bilahnya sedang dengan kembang kacang,
satu lambe gajah, satu sogokan di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah,
sogokan belakang tidak ada. Selain itu, keris ini juga menggunakan gusen dan lis-lis-an.
Konon keris pusaka ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang mpu. Bahan kerisnya diambil dari
berbagai tempat. Dan akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh tetapi memiliki watak
yang jahat.
3. Keris kyai setan kober
Keris ini sama legendarisnya dengan Keris Mpu Gandring. Berapa luk masih belum diketahui,
tapi kalo menurut kula keris ini lurus tanpa luk, ciri khas keris yg dipakai dalam perang.
Pembuatnya tidak diketahui secara pasti karena tercampur dg tahayul yg tidak jelas.
Pemegang keris ini adalah Adipati dari Kadipaten Jipang Panolang yang juga sangat legendaris, Arya
Penangsang.
Keris ini konon, bila dicabut dari warangkanya akan menimbulkan sugesti yang hebat bagi orang2 disekitarnya.
Sugesti yg berbentuk angin ribut seperti setan2 yg berkejaran.
Arya Penangsang sendiri dikenal memiliki ilmu kebal.
Musuh sepadan keris ini adalah tombak kyai Plered yg juga melegenda.
Sewaktu konflik melawan Penangsang, Adipati Hadiwijaya (joko tingkir) mengutus Danang Sutowijoyo
untuk menantang Penangsang di bukit Menoreh dan membekalinya dg tombak keramat tsb.
Hadiwijaya juga dikenal ahli strategi. Beliau tahu kalau Penangsang mempunyai kuda jantan jenius
bernama Gagak Rimang. Kuda ini seperti memiliki koneksi batin dg Penangsang.
Kemanapun pengendara berpikir, kesana juga Gagak Rimang. Tanpa harus dikendalikan dengan tali kekang.
Untuk mengatasi masalah ini, Hadiwijaya menyuruh Danang menantang Penangsang disaat musim
kimpoi kuda dan menyuruh Danang memakai kuda betina. Strategi lainnya, Danang disuruh datang terlebih dahulu
dan mengambil posisi diatas bukit.
Pada hari H, Danang yg berada dilereng bagian atas terlebih dahulu. Ketika Penangsang datang,
kudanya yang secara alami berada dipuncak birahi melihat kuda betina tunggangan Danang.
Hal ini membuat sang kuda tak terkendali sehingga dg mudah Danang menusukkan tombak kyai Plered ke perut Arya
Penangsang. Tombak bertuah ini berhasil merobek badan kebal Penangsang mengakibatkan ususnya terburai.
Walaupun mengalami critical injured seperti ini, Arya Penangsang kembali tegak berdiri dan menguntaikan
ususnya sendiri ke gagang keris dan berlari mendekati Danang. Ketika dekat, Aryo Penangsang
draw his blade. Sayang, Aryo Penangsang lupa kalau ada ususnya sendiri disitu, ketika keris tercabut justru memutus usus tsb.
Dan berakhirlah riwayat adipati gagah ini dg cara yg luar biasa.
Hadiwijaya yg melihat semua ini menjadi kagum, dan menyuruh Danang bila menikah nanti meniru sikap gagah Aryo Penangsang.
Danang Sutowijoyo melakukan wejangan tersebut dan untaian usus di gagang keris diganti dengan
untaian kembang melati. Tradisi yg dipertahankan hingga sekarang.
4. Keris kyai sengkelat
Kyai Sengkelat adalah keris pusaka luk tiga belas yang diciptakan pada jaman Majapahit (1466 – 1478), yaitu pada masa pemerintahan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) karya Mpu Supa Mandagri.
Mpu Supa adalah salah satu santri Sunan Ampel. Konon bahan untuk membuat Kyai Sengkelat adalah cis, sebuah besi runcing untuk menggiring onta. Konon, besi itu didapat Sunan Ampel ketika sedang bermunajat. Ketika ditanya besi itu berasal darimana, dijawab lah bahwa besi itu milik Muhammad saw. Maka diberikan lah besi itu kepada Mpu Supa untuk dibuat menjadi sebilah pedang.
Namun sang mpu merasa sayang jika besi tosan aji ini dijadikan pedang, maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas dan diberi nama Kyai Sengkelat. Setelah selesai, diserahkannya kepada Sunan Ampel. Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Menurutnya, keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu, seharusnya besi itu dijadikan pedang yang lebih cocok dengan budaya Arab, tempat asal agama Islam. Maka oleh Sunan Ampel disarankan agar Kyai Sengkelat diserahkan kepada Prabu Brawijaya V.
Ketika Prabu Brawijaya V menerima keris tersebut, sang Prabu menjadi sangat kagum akan kehebatan keris Kyai Sengkelat. Dan akhirnya keris tersebut menjadi salah satu piyandel (maskot) kerajaan dan diberi gelar Kangjeng Kyai Ageng Puworo, mempunyai tempat khusus dalam gudang pusaka keraton.
Pusaka baru itu menjadi sangat terkenal sehingga menarik perhatian Adipati Blambangan. Adipati ini memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencuri pusaka tersebut demi kejayaan Blambangan, dan berhasil. Mpu Supa yang telah mengabdi pada kerajaan Majapahit diberi tugas untuk mencari dan membawa kembali pusaka tersebut ke Majapahit. Dalam menjalankan tugasnya, sang Mpu menyamar sebagai seorang pandai besi yang membuat berbagai alat pertanian dan mengganti namanya menjadi Ki Nambang.
Di samping pandai membuat alat pertanian, beliau juga membuat tombak, pedang dan keris yang kemudian dipamerkan di tempat-tempat keramaian, di Blambangan. Seketika pameran tersebut memancing perhatian banyak orang. Banyak sekali pesanan datang dari para pejabat kadipaten Blambangan. Termasuk patih Adipati Blambangan yang memesan Keris Carangsoka.
Akhirnya sang adipati Blambangan menyaksikan keris ciptaan Ki Nambang, sebilah keris Carangsoka yang sangat bagus dan ampuh. Ketika ditusukkan ke pohon pisang, seketika itu seluruh daun pisang menjadi layu. Karenanya sang mpu di undang untuk menghadap ke kadipaten guna membicarakan suatu hal yang rahasia dengan alasan agar percikan bunga api besi bahan kerisnya, tidak menjadi bencana bagi rakyat Blambangan.
Ternyata setelah Ki Nambang datang menghadap, didapatnya tugas untuk membuat “putran” atau tiruan Kangjeng Kyai Puworo (Keris Sengkelat). Ki Nambang dengan siasatnya meminta disediakan perahu untuk membuat tiruan Kyai Sengkelat dengan alasan percikan bunga api besi bahan kerisnya tidak menimbulkan bencana bagi rakyat Blambangan.
Singkat cerita, akhirnya rencana mendapatkan kembali keris pusaka Majapahit itu berhasil tanpa harus menimbulkan kecurigaan dan pertumpahan darah. Malah Ki Nambang akhirnya dianugerahi seorang putri kadipaten yang bernama Dewi Lara Upas, adik dari Adipati Blambangan itu sendiri. Serta mendapatkan gelar kebangsawanan sebagai Kangjeng Pangeran berikut tanah perdikan di Desa Pitrang. Maka namanya pun berubah menjadi Kangjeng Pangeran Pitrang yang bekerja sebagai mpu kadipaten Blambangan.
Sang Mpu yang berhasil melaksanakan tugas selalu mencari cara agar dapat kembali ke Majapahit. Ketika kesempatan itu tiba maka beliau pun segera kembali ke Majapahit dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Sebelum pergi, beliau meninggalkan pesan kepada sang istri bahwa kelak jika anak mereka lahir laki-laki agar diberi nama Joko Suro, serta meninggalkan besi bahan membuat keris.
Lima belas tahun kemudian setelah Mpu Pitrang meninggalkan Blambangan, datang lah seorang pemuda yang mengaku sebagai anak mpu Supa. Ketika ditanya, ia mengaku bernama Joko Suro. Mpu meminta bukti berupa besi bahan membuat keris. Namun ketika diserahkan oleh Joko Suro, besi bahan itu telah menjadi sebilah keris. Ternyata selama dalam perjalanan mencari ayahandanya, besi itu oleh Joko Suro dipijit-pijit dan ditarik olehnya hingga menjadi sebilah keris kecil. Maka keris itu pun dinamakan Keris Kyai Bethok yang mempunyai keampuhan menyingkirkan niat jahat.

5. Keris kyai carubuk
Dalam satu legenda dikisahkan Sunan Kalijaga meminta tolong untuk dibuatkan keris coten-sembelih (pegangan lebai untuk menyembelih kambing). Lalu oleh beliau diberikan calon besi yang ukurannya sebesar biji asam jawa. Mengetahui besarnya calon besi tersebut, Empu Supa sedikit terkejut. Ia berkata besi ini bobotnya berat sekali, tak seimbang dengan besar wujudnya dan tidak yakin apakah cukup untuk dibuat keris. Lalu Sunan Kalijaga berkata kalau besi itu tidak hanya sebesar biji asam jawa tetapi besarnya seperti gunung. Karena ampuh perkataan Sunan Kalijaga, pada waktu itu juga besi menjelma sebesar gunung.Hati empu Supa menjadi gugup, karena mengetahui bahwa Sunan Kalijaga memang benar-benar wali yang dikasihi oleh Pencipta Kehidupan, yang bebas mencipta apapun. Lantaran itu, empu Supa berlutut dan takut. Ringkas cerita, besipun kemudian dikerjakan. Tidak lama, jadilah keris, kemudian diserahkan kepada Sunan Kalijaga. Akan tetapi anehnya begitu melihat bentuknya, seketika juga Sunan Kalijaga menjadi kaget, sampai beberapa saat tidak dapat berbicara karena kagum dan tersentuh perasaannya, karena hasil kejadian keris itu berbeda jauh sekali dengan yang dimaksudkan. Maksud semula untuk dijadikan pegangan lebai, ternyata yang dihasilkan keris Jawa (baca Nusantara) asli Majapahit, luk tujuhbelas. Sebenarnya, begitu mengetahui keindahan keris, perasaan Sunan Kalijaga agak tersentuh, oleh karena itu mengamatinya sempai puas tidak bosan-bosannya. Kemudian ia berkata sambil tertawa dan memuji keindahan keris itu.Lalu Empu Supa diberi lagi besi yang ukurannya sebesar kemiri. Setelah dikerjakan, jadilah sebilah keris mirip pedang suduk (seperti golok atau belati). Begitu mengetahui wujud keris yang dihasilkan sunan Kalijaga sangat senang hatinya. keris itu disebut Kyai Carubuk. keris kyai carubuk ini akhirnya menjadi pusaka sultan hadiwijaya, bahkan sanggup mengalahkan keris setan kober milik arya penangsang ketika pesuruh arya penangsang melakukan percobaan pembunuhan pada sultan hadiwijaya dengan memakai keris setan kober

6. Tombak kyai plered
tombak sepanjang 3.5 meter ini merupakan senjata pusaka milik Kraton Ngayugyakarta Hadiningrat (Yogyakarta) dijamasi setiap setahun sekali saat bulan Syura. senjata ini merupakan pegangan Raja Mataram Pertama yang bernama Panembahan Senapati (Nama Asli: Danang Sutawijaya) dan digunakan untuk mengalahkan Bupati Jipang Arya Penangsang dalam perang tanding di pinggir Bengawan Solo.

7. Tombak baru klinting
menurut legenda merupakan titisan dari Naga Baru Klinting yang dihukum ayahnya (Ki Ageng MAngir Wanabaya) karena gagal melingkari gunung merapi.
aslinya senjata berujud tombak ini sebelumnya adalah pusaka milik Ki Ageng Mangir Wanabaya yang memberontak kepada panembahan Senopati. karena keampuhan senjata ini, panembahan Senapati terpaksa mengutus Putrinya Nyi Ageng Pembayun untuk mengelabuhi Ki Ageng Mangir. saat ini tombak ini tersimpan di Kraton Ngayugyakarta Hadiningrat (Yogyakarta) sebagai senjata pusaka pendamping tombK Kanjeng Kyai Plered.

Senin, 19 Maret 2012

CIRI IDENTIFIKASI KATEGORI TANGGUH DAN PERKIRAAN JAMAN


Tangguh secara harfiah berarti perkiraan. Dalam dunia perkerisan di pulau Jawa tangguh meliputi perkiraan mengenai zaman pembuatan atau gaya pembuatan. Jadi jika seorang mengatakan bahwa sebilah keris tangguh Majapahit, itu berarti bahwa keris itu diperkirakan buatan zaman Kerajaan Majapahit.
Definisi lain tangguh adalah perkiraan gaya kedaerahan, atau zaman dibuatnya sebilah keris atau tombak, yang dijabarkan dari pasikutannya, pengamatan jenis besinya, pamor dan bajanya. Yang dimaksud pasikutan adalah kesan selintas atas gaya garapan sebuah keris. Misalnya keris tangguh Majapahit dapat diartikan: (1) dibuat dengan gaya (model) Majapahit, (2) dibuat oleh empu dari Majapahit.
Ada sementara pecinta keris yang mengartikan tangguh sebagai asal-usul. Namun pengertian seperti ini kurang meyakinkan karena ternyata ada beberapa empu yang hidupnya berpindah-pindah, misalnya dari Pajajaran ke Tuban lalu ke Majapahit.
Penyebutan nama tangguh keris terasa kabur karena dalam budaya keris juga dikenal kebiasaan mutrani atau pembuatan duplikat. Khusus untuk keris-keris putran (duplikat), penyebutan nama tangguh menjadi kacau, maka untuk keris-keris demikian lalu disebut yasan, artinya buatan. Misalnya keris A merupakan duplikat keris B. Keris A buatan Surakarta, sedangkan keris B tangguh Tuban. Maka keris A disebut tangguh Tuban yasan Surakarta.
Karena itu, jika seseorang keliru dalam menangguh sebuah keris, ia tidak akan terlalu dipersalahkan karena tangguh hanyalah sebuah perkiraan. Ilmu tangguh mempelajari cara menentukan perkiraan tentang zaman apa sebuah keris atau tosan aji lain dibuat, berdasarkan tanda-tanda tertentu. Ahli keris yang sering tepat dalam memperkirakan tangguh sebilah keris atau tombak biasanya disebut ahli tangguh. Dengan mengamati tanda-tandanya seorang ahli tangguh terkadang dapat memastikan tangguh sebilah keris. Jika tangguhnya pasti, biasanya disebut tangguh lempoh.
Serat Centhini yang oleh sebagian besar pencinta keris dianggap sebagai sumber tertulis yang menjadi panutan, tidak mengkaitkan soal tangguh dengan sesuatu zaman. Tentang hal ini, Bambang Harsrinuksmo dalam naskahnya Budaya Keris (manuskrip tahun 1996) antara lain menulis: bilamana maksud para penulis Serat Centhini memang bukan mengaitkan soal tangguh dengan zaman pembuatan, berarti seorang empu yang hidup pada masa kini pun boleh menyebut keris buatannya sebagai keris tangguh Majapahit. Dalam naskahnya itu Bambang Harsrinuskmo menyimpulkan, tangguh seharusnya memang dikaitkan dengan zaman pembuatan, sekaligus perkiraan umur keris itu. Ia berpendapat, walaupun Serat Centhini menjadi salah satu panutan, belum tentu segala uraian yang dimuat dalam karya agung itu pasti benar.

Tangguh keris yang dikenal masyarakat perkerisan di Pulau Jawa adalah:

Tangguh Segaluh, mempunyai pasikutan kaku tetapi luruh. Besinya berkesan kering, warna hitam pucat kehijauan. Pamornya kelem. Panjang bilahnya ada yang panjang, ada pula yang pendek. Gandiknya maju kedepan sehingga ganjanya selalu panjang.

Tangguh Pajajaran, pasikutannya kaku dan kasar, besinya cenderung ‘kering’, keputih-putihan, pemunculan pamornya tidak direncanakan. Menancapnya pamor pada bilah keris pandes (kokoh, dalam) dan halus. Pamor itu tergolong nggajih.

Tangguh Kahuripan, pasikutannya hambar, kurang semu. Warna besinya agak kehitaman, biasanya berpamor sanak, tetapi ada juga yang mubyar. Ganjanya agak tinggi, tetapi tidak begitu lebar. Ukuran panjang bilahnya sedang, luk-nya tidak merata, makin keujung makin rapat. Ada kalanya keris tangguh Kahuripan berganja iras, namun banyak juga yang tidak.

Tangguh Jenggala, pasikutannya luwes, birawa. Besinya agak kehitaman, berpamor lumer pandes tetapi ada pula yang mubyar. Ukuran panjang bilahnya agak berlebihan dibanding tangguh lainnya, demikian juga lebar bilahnya, terutama di bagian sor-soran. Luknya luwes merata, Sirah cecak pada ganja berbentuk lonjong memanjang.

Tangguh Singasari, pasikutannya kaku dan wingit. Bilahnya berukuran sedang; ujungnya tak begitu runcing. Warna besinya abu-abu kehitaman, nyabak (bagaikan batu tulis). Menancapnya pamor pada permukaan bilah lumer dan pandes. Penampilan pamor itu biasanya lembut dan suram (kelem). Gandik-nya berukuran sedang, agak miring. Sirah cecak pada ganja bentuknya lonjong memanjang.

Tangguh Majapahit, pasikutannya agak wingit dan prigel, besinya lumer (halus rabaannya) dan berkesan ‘kering’; warnanya agak biru. Menancapnya pamor pada bilah pandes lan ngawat (kokoh serupa kawat), sebagian pamor itu mrambut. Panjang bilahnya berukuran sedang, makin ke ujung makin ramping sehingga berkesan runcing. Luknya tidak begitu rapat. Gandiknya miring dan agak pendek.

Tangguh Madura, dalam dunia perkerisan dibagi dua, yakni Madura Tua yang sejaman dengan Majapahit dan Madura Muda yang sejaman dengan Mataram Amangkurat. Keris tangguh Madura Tua pasikutannya demes, serasi, seimbang, menyenangkan). Besinya berkesan kering seperti kurang wasuhan, warnanya hitam pucat. Pamornya nggajih dan nyekrak, kasar rabaannya. Panjang bilahnya tidak merata; ada yang panjang, ada yang sedang, ada yang agak pendek. Ganjanya sebit ron tal, sirah cecaknya pendek. Keris tangguh Madura Muda pasikutannya galak. Besinya berkesan kering; seperti kurang wasuhan. Warnanya hitam agak abu-abu; kadar bajanya kurang. Pamornya mubyar dan nyekrak. Gandik-nya miring, ganjanya sebit ron tal, sirah cecaknya pendek.

Tangguh Blambangan mempunyai pasikutan demes. Besinya keputihan dan berkesan demes, serasi. Pamornya, biasanya nggajih dan menancap ke permukaan secara pandes. Bilah keris tangguh Blambangan berukuran sedang, ujungnya tidak terlalu meruncing. Gandiknya pendek dan miring; ganjanya sebit ron tal; sedangkan sirah cicaknya pendek.

Tangguh Sedayu, pasikutannya demes, serasi, harmonis. Panjang bilahnya sedang, berkesan ramping, luk-nya juga luwes. Besinya matang tempaan, berkesan basah, hitam kebiruan. Pamornya bersahaja, mrambut, dan seolah mengambang pada bilahnya. Ganjanya tergolong sebit ron tal, sirah cicaknya agak pendek.

Tangguh Tuban, pasikutannya sedang, panjang bilahnya sedang, agak lebar, agak tebal, luknya renggang dan dangkal. Besinya hitam; kadar bajanya banyak dan berkesan kering. Pamornya kelem dan pandes. Gandiknya agak pendek. Bentuk sirah cecak pada ganjanya membulat, besar tapi pendek. Sogokannya panjang.

Tangguh Sendang, walaupun garapannya rapi, pasikutannya wagu, kurang harmonis, kurang serasi. Bilahnya kecil ramping dan agak pendek. Besinya matang tempaan, kehitamaan dan berkesan basah. Pamornya sederhana dan berkesan mengambang.

Tangguh Pengging, pasikutannya sedang ramping, garapannya rapi, Jika keris luk, luknya rengkol sekali. Besinya hitam, berkesan basah. Pamornya bersahaja, lumer pandes. Gulu melednya panjang.

Tangguh Demak, mempunyai pasikutan yang wingit. Bilahnya berukuran sedang; besinya hitam kebiru-biruan dan berkesan basah. Pamornya tergolong kelem dan berkesan mengambang. Ganjanya tipis. Sirah cicaknya pendek.

Tangguh Pajang, pasikutannya kemba, besinya odol dan garingsing. Pamornya sawetu-wetune; tidak direka dan tidak dirancang. Kembang kacangnya besar, lebar dan kokoh.

Tangguh Madiun, pasikutannya kemba. Besinya berkesan basah. Pamornya sedikit tapi lumer dan pandes. Bilah tebal, biasanya nglimpa, konturnya agak mbembeng.

Tangguh Koripan, pasikutannya kemba, tanpa semu (hambar). Besinya garingsing (kehitaman dan berkesan kering); pamornya berkesan adeg, jenis pamornya sanak.

Tangguh Mataram, ada tiga macam, masing-masing mempunyai ciri tersendiri. Pertama, Mataram Senopaten; pasikutannya prigel, sereg; besinya hitam kebiruan. Pamornya pandes lan ngawat. Kedua, Mataram Sultan Agung: pasikutannya demes (serasi, menyenangkan, tampan, enak dilihat), besinya mentah, pamornya mubyar. Ketiga Mataram Amangkuratan: pasikutannya galak, birawa, besinya mentah, pamornya kemambang. Tangguh Amangkuratan biasaya juga disebut Tangguh Kartasura.

Tangguh Cirebon, mempunyai pasikutan yang wingit. Bilahnya berukuran sedang, tipis, jarang yang memakai ada-ada; besinya hitam kecoklatan dan berkesan kering. Pamornya tergolong kelem dan berkesan mengambang. Ganjanya tipis dan sirah cecaknya pendek.

Tangguh Surakarta pasikutan-nya demes dan gagah (serasi, menyenangkan, tampan, gagah), birawa. Besinya mentah; pamornya mubyar, ganjanya memakai tungkakan.

Tangguh Yogyakarta agak mirip dengan tangguh Majapahit. Pasikutannya wingit dan prigel. Besinya lumer (halus rabaannya) dan berkesan ‘kering’, warnanya agak biru. Menancapnya pamor pada bilah pandes lan ngawat (kokoh dan serupa kawat), sebagian pamor itu mrambut. Panjang bilahnya berukuran sedang, makin ke atas makin ramping hingga berkesan meruncing. Luknya tidak begitu rapat, Gandiknya miring dan agak pendek.

Keris Buda dan tangguhKabudan, walaupun dikenal masyarakat luas, tidak dimasukan ke dalam buku-buku yang memuat soal tangguh. Mungkin, karena dapur keris yang dianggap masuk dalam tangguh Kabudan hanya sedikit, hanya dua yakni Jalak Buda dan Betok Buda. 

[Sumber: Bambang Harsrinuksmo, Ensiklopedi Keris, Gramedia, 2008, hlm. 459-463]


KATEGORI TANGGUH DAN PERKIRAAN JAMAN =
1 .) KADEWATAN PADA ABAD 4 SAMPAI 5 MASEHI
2. )PURWA CARITO PADA ABAD 6 - 7 MASEHI
3. )BUDA PADA ABAD 8-9 MASEHI
4.)JENGGOLO,SEGALUH PADA ABAD 9 - 12 MASEHI
5,)PAJAJARAN ABAD 10 - 12 MASEHI
6.)SINGOSARI ABAD 13 MASEHI
7.)MOJOPAHIT ,BLAMBANGAN ,TUBAN,SEDAYU ABAD 14 - 15 MASEHI
8.)PAJANG,PENGGING,MADURA,CIEBON,MADIUN ABAD 16 MASEHI
9.)MATARAM =
   A )PANEMBAHAN SENOPATI ABAD 16 MASEHI
   B)SULTAN AGUNG HAYAKRAKUSUMA ABAD 17 MASEHI
   C)AMANGKURAT AGUNG (PLERET,KARTASURA )ABAD 18 - 19 MASEHI
10)SURAKARTA ,YOGYAKARTA ABAD 18 - 20 MASEHI

DALAM PENYEBUTAN TANGGUH 
 SEYOGYANYA JUGA DI CANTUMKAN PERKIRAAN ABDNYA ,
JIKA MUNGKIN TAHUN PERSISNYA 
JIKA BERHADAPAN DENGAN TOSAN AJI / KERIS - KERIS TANGGUH LEMPOH

MACAM NAMA DHAPUR TOMBAK

 

DHAPUR TOMBAK LUK SATU ATAU LURUS
  1. BARU
  2. BARU TOPONG
  3. BARU KUPING
  4. BARU PENATAS
  5. BARU KALA
  6. CEKEL
  7. CEKEL BALULUK
  8. SIGAR JANTUNG
  9. BIRING PEREMPUAN ( WADON )
  10. BIRING LANANG
  11. BIRING DRAJIT
  12. SAPIT ABON
  13. SAPU ABON
  14. TOTOK
  15. SADAK
  16. KUDHUP MELATI
  17. KUDHUK CEMPAKA
  18. KUDHUP GAMBIR
  19. GODHONG ANDONG
  20. BUNG AMPEL
  21. GODHONG PRING
  22. SUJEN AMPEL
  23. TUMPER INGAS
  24. PLERET
  25. GODHONG DHADAP
  26. GODHONG SURUH
  27. TRISULA
  28. SANGKUH
  29. KUDHI
DHAPUR TOMBAK LUK TIGA
  1. SAPIT ABON
  2. PANDHU
  3. BANYAK ANGREM
  4. KUNTUL NGANTUK
  5. SIPAT KELOR
  6. BUTA MELER
  7. KUDHI
 DHAPUR TOMBAK LUK LIMA
  1. RANGGA
  2. CACING KANIL
  3. DARADHASIH
  4. PANGGANG WELUT
  5. DORA MENGGALA
  6. SLADHANG ASTA
  7. PANGGANG LELE
 DHAPUR TOMBAK LUK TUJUH
  1. MEGANTARA
  2. KRACAN/KRADHAN
  3. LUNG GANDHU
  4. DARA DASIH
 DHAPUR TOMBAK LUK SEMBILAN ,
SEBELAS DAN TIGA BELAS
  1. BANDHOTAN
  2. CARITA ANOMAN
  3. CARITA BLANDHONGAN
  4. CARITO PANDHAN
  5. SENGKELAT LUK 13
DHAPUR TOMBAK PALAWIJAN / KALAWIJAN 
KLIK DI HALAMAN LAIN >>>

NOMOR CONTACK PERSON
 CV . GUDANG PUSAKA
Badan Hukum : 01/12/07/2011 TPN : 12 / 2011 / PN.SKH
CONTACK TELPON
HUBUNGI BP . FATHUDDIN
TELPON : +6285647333381 PIN BB : 26 CAD 4BB
SALAM HORMAT DAN BUDAYA
TERIMA KASIH
BY FATHUDIN GUDANG PUSAKA

MACAM MACAM DHAPUR KERIS DAPUR KERIS LURUS

  1. BROJOL
  2. SOMBRO
  3. BETHOK
  4. SEMAR BETHAK 
  5. SEMAR MENDHEM
  6. SIGAR ( SEKAR ) JANTUNG
  7. PATREM
  8. SEMAR TINANDU
  9. BROJOL
  10. CRUBUK LENCENG
  11. KEBO ( MAHESO ) LAJER
  12. MAHESA DHUNGKUL
  13. PINARAK MENDUNG
  14. PINARAK
  15. MAHESO KANTONG
  16. GUMBENG ( SUMBENG )
  17. KEBO GIRI
  18. RON TEKI
  19. LALER MENGENG
  20. JAKA LOLA (KALOLA )
  21. JAKA LOLA 
  22. MARAK
  23. KALA (KALAM ) MUNYENG
  24. JALAK SUMELANG GANDRING
  25. MAYAT MIRI ( MIRING )
  26. CONDHONG CAMPUR
  27. JAMANG MURUB
  28. JAKA TUWA
  29. JAGA UPA
  30. MARA SEBA
  31. LAR NGATAP ( BANGO )
  32. JALAK SANGU TUMPENG
  33. MANGKURAT
  34. PANJI ANOM ( SINOM )
  35. PANJI PENGANTEN
  36. WORA - WARI
  37. JALAK ( TILAM SARI)
  38. JALAK NGUWUH
  39. JALAK DHINDING
  40. JALAK RUWUH
  41. TILAM UPIH (PETHAK )
  42. JALAK NGORE
  43. JALAK TILAM SARI
  44. JALAK TILAM SARI
  45. MESEM ( SEMER MESEM )
  46. KALA NADHAH
  47. PANJI SEKAR
  48. SEMPANA ( SEMPANER )
  49. SEMPANA BENER
  50. KALA DETE ( DETENG )
  51. KEBO TEKI
  52. JALAK NGOCEH
  53. JALAK ANGEPANG
  54. SUJEN AMPEL
  55. TUMENGGUNG
  56. KANDHA BASUKI
  57. SEMAR TINANDHU
  58. PASOPATI
  59. MENDARANG
  60. SINOM WORA WARI
  61. KALA MISANI
  62. SINOM
  63. SEPANG
  64. KARNA TINANDHING
  65. REGOL
  66. YUYU RUMPUNG
  67. DHUNGKUL /DHUNGKUL/WUNGKUL
  68. KELAP LINTAH
  69. CUNDRIK
  70. CENGKRONG
  71. BANGO DHOLOK
  72. PUDHAK SETEGAL
  73. KUDHI
  74. PANDHAN RAWA
  75. PUTHUT
  76. NAGA PASA
  77. SINGA
  78. BARONG
  79. NAGA KIKIK
  1. URUBING DHILAH (DAMAR MURUP )
  2. LANANG JAWA
  1. MAHESA NEMPUH
  2. DHUWUNG
  3. WUWUNG
  4. TEBU SAUYUN
  5. BANGO DHOLOK
  6. MAHESA NABRANG
  7. SEGARA WINOTAN
  8. CAMPUR BAWUR
  9. JANGKUNG
  10. JANGKUNG CINARITO
  11. MAYAT
  12. MAHESA SOKA
  13. JANGKUNG PACAR
  14. MANGLAR MONGA
  1. PULANGGENI
  2. PENDHAWA
  3. KALA NADHAH
  4. BAKUNG
  5. KEBO DHENDENG
  6. RARA SIDUWA
  7. PENDHAWA LARE
  8. PENDHAWA LARE LINGEN
  9. PENDHAWA ULAP
  10. URAB URAB
  11. SINARASAH
  12. ANOMAN
  13. PENDHAWA CINARITO
  14. PUDHAK SETEGAL
  15. KEBO DHENGEN
  16. NAGA SALIRA
  1. JARAN GUYANG
  2. MURMA MALELA
  3. SEMPANA BUNGKEM
  4. CRUBUK
  5. SEMPANA PANJUL
  6. MEGANTARA
  7. CARITO KASAPTO
  8. BALEBANG
  9. NAGA KERAS
  10. NAGA KIKIK
  11. NAGA SILUMAN
  12. NAGA SINGA
  13. NAGA GAJAH
  1. KIDANG MAS
  2. JARUMAN
  3. KLIKA BENDHA
  4. KIDANG MILAR
  5. SEMPANA
  6. SEMPANA KALENTHANG
  7. CARITA
  8. KIDANG SOKA
  9. CARANG SOKA
  10. PANJI SEKAR
  11. JARUDEH
  12. PANIWEN
  13. PANIMBAL
  14. CARITA KANOWO
  15. BUTO IJO
  16. SABUK TAMPARNAGA PENGANTEN
  1. JAKA WURU
  2. SABUK TALI
  3. JAKA RUMEKSA
  4. CARITA PRASAJO
  5. CARITO BUNGKEM
  6. CARITO GANDHU
  7. SANTAN
  8. WALURING ATAU CALURING REGOL ( CALURING )
  9. SABUK INTEN
  10. CARITO GENENGAN
  11. CARITO KEPRABON
  12. CARITI DALEMAN
  1. KALA WELANG
  2. KANTAR
  3. SABUK INTEN
  4. PARUNG SARI
  5. CARITO LUK 13
  6. SENGKELAT
  7. BIMA KURDHA
  8. LUNG GANDHU
  9. NAGA SILUMAN LUK 13
  10. NAGA SASRA 
  11. NAGA RAJA
  1. MAHESA NABRANG
  2. RAGA PASUNG
  3. RAGA WILAH
  4. SEDHET
  5. CARITO BUNTOLO
  6. CARANG BUNTALA / CARANG MUKA
  1. CANCINGAN (LANCINGAN )
  2. NGAMPER BUTA (AMPER BUTA )
  1. TRIMURDA
  2. DRAJIT
  3. TRISIRAH
  4. KALA TINANTANG ( KINANTANG )
  5. BIMA NEMPUH
  6. TRISIRAH LUK 23
  7. BIMAKURDA
  8. ANGGA WIRUN ( TAGA WIRUN )
  9. KALA BENDUKALA LUNGA